Australia–Jepang Resmikan Kontrak Kapal Perang US$ 7 Miliar



KONTAN.CO.ID - SYDNEY.  Australia dan Jepang resmi mengunci kerja sama strategis di sektor pertahanan dengan nilai jumbo yang tak hanya berdampak militer, tetapi juga ekonomi kawasan. Kesepakatan pengadaan kapal perang senilai US$10 miliar ini menjadi sinyal kuat pergeseran lanskap industri pertahanan global di tengah meningkatnya tensi geopolitik Asia-Pasifik.

Penandatanganan kontrak dilakukan Sabtu (18/4) oleh Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dan Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi. Dalam pernyataannya yang dikutip Reuters (19/4), Marles menegaskan bahwa kesepakatan ini mencerminkan komitmen kedua negara untuk memastikan keberhasilan proyek pengiriman kapal perang tersebut.

Kesepakatan ini bukan sekadar transaksi alutsista. Bagi Jepang, langkah ini menandai percepatan transformasi kebijakan pertahanan yang selama puluhan tahun dibatasi oleh prinsip pasifisme pascaperang. Kini, Tokyo semakin agresif membangun kemitraan keamanan di luar aliansinya dengan Amerika Serikat untuk mengimbangi pengaruh China di kawasan.


Baca Juga: Kilang Terbesar Terbakar, Australia Pastikan Tak Ada Pembatasan BBM

Dari sisi industri, kontrak ini juga membuka peluang besar. Mitsubishi Heavy Industries akan menjadi pemasok utama dengan memproduksi tiga fregat multiguna kelas Mogami yang ditingkatkan mulai 2029. Sementara itu, delapan kapal lainnya akan dibangun di Australia, menciptakan efek berganda bagi industri galangan kapal domestik dan penyerapan tenaga kerja.

Model produksi bertahap ini menunjukkan strategi transfer teknologi dan penguatan kapasitas industri lokal Australia. Setelah tiga kapal pertama diproduksi di Jepang, proyek akan beralih ke pembangunan di galangan Henderson dekat Perth, yang diproyeksikan menjadi pusat manufaktur strategis baru di sektor pertahanan.

Secara ekonomi, proyek ini mempertegas bahwa belanja pertahanan kini menjadi salah satu motor penggerak industri berat dan manufaktur bernilai tinggi. Negara-negara mitra tidak hanya membeli produk, tetapi juga mengamankan rantai pasok, teknologi, dan kemandirian industri.

Australia sendiri memiliki kepentingan strategis yang jelas. Kapal-kapal ini dirancang untuk memburu kapal selam, menyerang kapal permukaan, serta memperkuat pertahanan udara fungsi krusial untuk menjaga jalur perdagangan laut yang menjadi urat nadi ekonomi. Terlebih, kawasan Samudra Hindia dan Pasifik kini semakin padat oleh aktivitas militer China.

Dengan demikian, kesepakatan ini bukan hanya kontrak pertahanan, melainkan juga investasi geopolitik dan ekonomi jangka panjang. Di tengah rivalitas global yang kian tajam, kerja sama Australia–Jepang menjadi contoh bagaimana sektor pertahanan berkelindan erat dengan strategi pertumbuhan dan stabilitas kawasan.

Baca Juga: Kebakaran Kilang Minyak Australia Perburuk Krisis BBM di Tengah Konflik Iran