Autopedia Sukses Sebut Permintaan Mobil Bekas Sedikit Melandai Setelah Lebaran



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Permintaan mobil bekas mulai menunjukkan perlambatan setelah periode Lebaran berakhir. Meski demikian, pelaku usaha menilai pelemahan nilai tukar rupiah sejauh ini belum berdampak signifikan terhadap harga jual kendaraan bekas.

Presiden Direktur PT Autopedia Sukses Lestari Tbk (ASLC) Jany Candra mengatakan, penurunan permintaan pasca-lebaran merupakan pola yang lazim terjadi setiap tahun.

"Permintaan setelah lebaran sedikit melandai dan ini memang pola setiap tahun seperti ini," ujar Jany kepada Kontan, Rabu (3/6/2026).


Di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Jany menilai harga mobil bekas masih relatif stabil. Menurut dia, ketidakpastian ekonomi global membuat penjual belum cukup percaya diri untuk menaikkan harga jual kendaraan.

Baca Juga: Penjualan Mobil Bekas Melaju Jelang Lebaran

"Pelemahan rupiah masih belum berpengaruh ke harga mobil bekas, mungkin karena dalam kondisi ketidakpastian global ekonomi seperti saat ini, penjual masih belum cukup yakin untuk menaikkan harga jual," katanya.

Meski permintaan jangka pendek cenderung melambat, ASLC tetap optimistis prospek bisnis mobil bekas masih menjanjikan.

Perseroan bahkan membidik pertumbuhan kinerja keuangan dobel digit pada 2026 dengan mengandalkan ekspansi bisnis ritel mobil bekas melalui platform Caroline.id.

Sepanjang 2025, Caroline.id mencatat penjualan sebanyak 4.275 unit mobil, naik 25% secara tahunan dari 3.420 unit pada 2024.

Jany mengatakan pertumbuhan tersebut ditopang semakin beragamnya pilihan produk, lokasi cabang yang strategis, serta efektivitas model bisnis online-to-offline (O2O) yang dijalankan perseroan.

Baca Juga: Ragu Beli Mobil Bekas? Program Garansi 3 Tahun Ini Bisa jadi Solusi

Menurut dia, kontribusi bisnis Caroline.id terhadap pendapatan ASLC saat ini memang masih lebih kecil dibandingkan lini bisnis lelang. Namun, segmen ritel dinilai memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar dalam jangka panjang.

"Jadi, mau industri naik atau turun, Caroline.id masih ada peluang besar untuk terus tumbuh. Jumlah customer yang masuk ke website kami, yang datang ke cabang kami, terus meningkat," ungkap Jany.

Oleh karena itu, ASLC optimistis permintaan melalui Caroline.id akan terus tumbuh pada kuartal II dan kuartal III tahun ini.

Di sisi lain, bisnis lelang kendaraan yang menjadi kontributor utama pendapatan perseroan masih menghadapi tantangan dari perlambatan industri otomotif. Saat ini, ASLC menguasai sekitar 40% pangsa pasar bisnis lelang kendaraan bekas.

"Market share kami di bisnis lelang ini sudah sangat besar, 40%. Jadi otomatis pendapatan kami akan terpengaruh oleh perkembangan industri," jelas Jany.

Ia menambahkan, salah satu sumber pasokan kendaraan lelang terbesar berasal dari perusahaan pembiayaan.

Baca Juga: Mudik Lebaran 2026, Autopedia Sukses (ASLC) Bidik Peluang di Pasar Mobil Bekas

Namun, sejak tahun lalu sektor pembiayaan mulai lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit seiring meningkatnya rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL).

Kondisi tersebut berdampak pada berkurangnya jumlah kendaraan yang ditarik dan dilelang sehingga pasokan kendaraan lelang ikut menurun.

Meski demikian, ASLC melihat peluang di tengah ketidakpastian ekonomi global. Menurut Jany, ketika daya beli masyarakat tertekan dan konsumen menunda pembelian mobil baru, kendaraan bekas dapat menjadi alternatif yang lebih ekonomis.

Selain itu, tren peralihan ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) juga membuka peluang baru bagi bisnis jual beli mobil bekas.

Pergantian kendaraan konvensional ke EV mendorong semakin banyak pemilik kendaraan yang menjual mobil lamanya ke pasar mobil bekas.

Untuk mendukung ekspansi bisnis ritel, ASLC mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar Rp 15 miliar hingga Rp 20 miliar pada tahun ini.

Baca Juga: Masih Jadi Favorit, Begini Tips Memilih Mobil Bekas dari Otos.id

Dana tersebut akan digunakan untuk menambah dua hingga tiga showroom Caroline.id baru serta merelokasi sejumlah cabang ke lokasi yang dinilai lebih strategis.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal I-2026, ASLC membukukan pendapatan sebesar Rp 283,6 miliar atau tumbuh 27,4% secara tahunan dibandingkan Rp 222,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu.

Namun, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk turun 42,5% secara tahunan menjadi Rp 7,07 miliar dari Rp 12,31 miliar pada kuartal I-2025.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News