Awan Gelap Bisnis Barang Mewah Menggelayuti Pelaksanaan Ajang Fashion Week Global



KONTAN.CO.ID - MILAN/LONDON. Para pengusaha dan produsen barang mewah global masih harap-harap cemas menghadapi prospek bisnis tahun ini. Kondisi bisnis bisa makin memburuk seiring berlanjutnya perang di Timur Tengah.

Kekhawatiran ini terlihat dalam gelaran sejumlah ajang fashion global. Hari ini, Selasa (22/9/2026), Milan Fashion Week mulai digelar. Sementara di 28 September mendatang, ajang serupa di Paris akan dimulai.

Reuters melaporkan, Selasa (22/9/2026), para investor mengkhawatirkan ancaman inflasi terhadap prospek pertumbuhan merek barang mewah. Dampak inflasi akibat konflik Timur Tengah menekan anggaran belanja konsumen.


Di saat yang sama, sektor barang mewah global belum benar-benar pulih. Minat investor dan konsumen terhadap tas tangan kelas atas mulai memudar.

Saham Kering, perusahaan induk Gucci, telah kehilangan seluruh keuntungan yang dicapai saat CEO Luca de Meo mulai memimpin setahun yang lalu. Saham LVMH, grup barang mewah terbesar di dunia, telah turun 37% sejak awal tahun 2026.

Baca Juga: Ekspansi Alibaba: Dari Cip Paling Canggih di China Hingga Program AI Superkuat

"Saya yakin tahun ini dan tahun depan kemungkinan akan menjadi masa konsolidasi, sementara pasar menstabilkan diri dan kembali lebih mudah diprediksi," ujar Diego della Valle, Chairman Tod’s, merek merek barang mewah asal Italia, dikutip Reuters, Selasa (22/9/2026).

Merek barang mewah menghadapi tekanan lebih besar untuk menarik minat pembeli melalui desain baru dan menunjukkan imbal hasil atas investasi dalam peragaan busana. Menurut hitungan para ahli, industri bisa menelan biaya hingga €10 juta untuk penyelenggaraan peragaan busana.

Studi yang dilakukan oleh Bain dan perusahaan konsultan lainnya menemukan, konsumen kelas menengah mengurangi pengeluaran untuk produk barang mewah. Ini meningkatkan persaingan untuk memperebutkan konsumen terkaya.

Merek-merek meningkatkan investasi pada toko, layanan, dan pengalaman eksklusif meskipun angka penjualan sedang menurun. "Terjadi polarisasi yang kuat di antara berbagai merek: kurang dari separuhnya yang tumbuh, sementara sisanya kehilangan pangsa pasar," kata Federico Bazzani, mitra di Deloitte Advisory, kepada Reuters.

Baca Juga: Daya Tarik Sydney Bagi Investor Indonesia dinilai Tetap Kuat

Prada, yang membuka Milan Fashion Week dengan peragaan busana, baru-baru ini merombak toko utamanya di Milan dengan menyediakan ruang privat yang dirancang khusus bagi pelanggan dengan pengeluaran terbesar.

David Watts, seorang penasihat bisnis barang mewah yang berbasis di London, mengatakan, produsen barang mewah berada dalam situasi sulit setelah kenaikan harga yang signifikan membuat bahkan pelanggan terkaya pun menjadi lebih kritis terhadap nilai yang mereka dapatkan dari harga yang dibayarkan.

"Produsen enggan menurunkan harga karena hal itu menyiratkan bahwa mereka sebelumnya mematok harga terlalu tinggi dan akan menggerus margin keuntungan. Namun mereka juga tidak ingin mengurangi produksi karena langkah tersebut akan berdampak negatif pada pendapatan," cetus Watts.

Para pelaku industri juga mulai berbicara lebih terbuka mengenai pergeseran preferensi konsumen. Ini menjadi salah satu alasan Renzo Rosso, Chairman OTB, perusahaan yang memiliki merek Diesel, tidak melihat adanya tanda-tanda pemulihan dalam waktu dekat bagi sektor ini.

Rosso menyebut, para pembeli kini semakin memprioritaskan pengeluaran untuk kesejahteraan atau wellness, kesehatan, dan umur panjang, serta layanan hotel dan restoran.

Gucci, Dolce & Gabbana, dan Giorgio Armani akan memamerkan koleksi terbaru mereka minggu ini di Milan. Sementara merek-merek unggulan LVMH, yaitu Dior dan Louis Vuitton, akan menjadi sorotan utama dalam ajang Paris Fashion Week yang dimulai pada 28 September.

Chanel akan menampilkan koleksi musim semi/panas 2027 pada tanggal 5 Oktober.