Awas! Deretan Saham Ini Bakal Tertekan Kebijakan Ekspor Satu Pintu Danantara
Senin, 25 Mei 2026 06:08 WIB
Oleh: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten saham sektor batubara, minyak sawit mentah (CPO), hingga logam dan mineral di Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi terimbas sentimen negatif. Sentimen tersebut adalah munculnya PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Pemerintah menjadikan DSI sebagai satu pintu ekspor komoditas batubara, CPO serta logam dan mineral tertentu. Kebijakan ini dinilai menimbulkan ketidakpastian baru di pasar, terutama bagi perusahaan dengan porsi ekspor besar di sektor tersebut. Muhammad Fatah Al Falah, Retail Analyst RHB Sekuritas Indonesia, mengatakan pelaku pasar saat ini masih memilih bersikap wait and see meskipun regulasi mengenai kebijakan tersebut telah diterbitkan pemerintah.
Menurut dia, pasar cenderung memberikan respons negatif terhadap ketidakpastian kebijakan, terutama terkait implementasi dan dampaknya terhadap arus dana eksportir. “Pasar mengkhawatirkan bahwa fungsi institusi pengelola ekspor yang seharusnya hanya sebagai verifikator berisiko berubah menjadi trader atau pelaku pasar,” ujar Fatah, Sabtu (23/5/2026). Baca Juga: Cek Rekening! Hari Ini (25/5) Pembayaran Dividen Saham Bank Blue Chip Rp 37.696/Lot Kekhawatiran pasar juga muncul karena adanya potensi perluasan komoditas yang masuk dalam skema ekspor satu pintu tersebut. Saat ini, kebijakan masih berfokus pada komoditas batubara dan CPO. Namun, pelaku pasar menilai ke depan skema serupa bisa diperluas ke komoditas strategis lain seperti nikel, tembaga, bauksit, timah, hingga liquefied natural gas (LNG). Di sisi lain, sorotan dari lembaga pemeringkat internasional seperti S&P Global Ratings dan Moody’s membuat investor asing semakin berhati-hati mencermati arah kebijakan ekspor Indonesia. Investor menilai kebijakan ini berpotensi mengurangi fleksibilitas eksportir dan meningkatkan intervensi pemerintah dalam mekanisme perdagangan komoditas. Tonton: Danantara Sumberdaya Indonesia DSI Dibentuk Agar Devisa Tak Parkir di Luar Negeri Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Martha Christina menilai praktik pengelolaan ekspor melalui satu institusi sebenarnya bukan hal baru di dunia. China memiliki China Rare Earth Group untuk mengatur ekspor logam tanah jarang, sementara Arab Saudi mengandalkan Saudi Aramco untuk pengelolaan ekspor minyak. Malaysia juga memiliki Petronas untuk sektor energi. Namun, menurut Martha, implementasi di Indonesia menghadapi tantangan berbeda karena mayoritas pemain besar di sektor komoditas merupakan perusahaan swasta. “Kalau China, Arab Saudi, dan Malaysia relatif lebih mudah karena pemain dominannya BUMN. Sementara di Indonesia mayoritas perusahaan swasta,” jelas Martha dalam paparan daring. Martha menambahkan, dampak kebijakan ini tidak akan terlalu besar bagi emiten yang penjualannya dominan di pasar domestik. Sebaliknya, emiten dengan ketergantungan ekspor tinggi diperkirakan paling rentan terdampak. Di sektor batubara misalnya, beberapa emiten tercatat memiliki porsi ekspor sangat besar. Berdasarkan data Mirae Asset Sekuritas, porsi ekspor PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mencapai 77%, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar 85%, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) sebesar 63%. Sementara di sektor CPO, PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi emiten dengan eksposur ekspor terbesar. Tonton: Puncak Haji 2026 Dimulai! Jemaah Indonesia Bergerak ke Arafah, Ini Jadwal & Imbauan Penting Adapun di sektor nikel, Martha menyebut PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) berpotensi paling terdampak karena memiliki hubungan penjualan dengan Glencore.
Sementara PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga memiliki porsi ekspor besar, meski saat ini masih menjual nickel matte yang belum termasuk dalam skema pengaturan ekspor satu pintu. Pelaku pasar kini menantikan kejelasan implementasi kebijakan tersebut, termasuk sejauh mana peran Danantara Sumberdaya Indonesia dalam rantai perdagangan komoditas nasional. Ketidakpastian mengenai mekanisme bisnis dan potensi perluasan cakupan komoditas diperkirakan masih akan menjadi sentimen yang memengaruhi pergerakan saham emiten berbasis ekspor dalam jangka pendek.