Awas! Ini Dampak AI Terhadap Negara Berkembang Menurut IMF & OECD
Jumat, 23 Oktober 2026 04:00 WIB
Oleh: Adi Wikanto | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Perkembangan akal imitasi atau artificial intelligence (AI) berpotensi memperlebar kesenjangan ekonomi antara negara kaya dan negara berkembang. Dana Moneter Internasional (IMF) dan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) mengingatkan bahwa manfaat AI berisiko hanya dinikmati oleh negara dan perusahaan yang memiliki infrastruktur serta sumber daya memadai. Peringatan tersebut muncul di tengah lonjakan investasi global untuk pengembangan cip dan infrastruktur AI. Investasi besar ini turut menopang pertumbuhan ekonomi dunia dan mendorong sejumlah pasar saham mencetak rekor tertinggi. Namun, pemanfaatan AI secara luas masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan pasokan listrik, infrastruktur digital, dan keterampilan tenaga kerja di negara berkembang seperti Indonesia.
Mengutip Reuters, Kamis (22/10/2026), pejabat IMF dan OECD menilai kesenjangan akses tersebut dapat membuat negara berkembang, perusahaan kecil, dan pekerja muda tertinggal dalam memanfaatkan teknologi AI. Baca Juga: Bursa Asia Melemah Kamis (22/10), Investor Waspadai Konflik Teluk dan Belanja AI IMF: Adopsi AI bisa dorong pertumbuhan ekonomi global Wakil Direktur Departemen Urusan Fiskal IMF Era Dabla-Norris mengatakan, tantangan utama negara berkembang bukan hanya memperoleh akses terhadap teknologi AI, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat diterapkan secara luas dalam kegiatan ekonomi. “Bagi banyak negara berkembang, pertanyaan terpenting adalah apakah mereka mampu mengadopsi dan menyebarluaskan penggunaan AI,” kata Dabla-Norris dalam forum Reuters Global Markets Forum. Menurut perkiraan IMF, penerapan AI secara efektif berpotensi menambah pertumbuhan ekonomi global hingga 0,5 poin persentase per tahun dalam jangka menengah. Meski demikian, bukti peningkatan produktivitas secara keseluruhan akibat penggunaan AI sejauh ini masih terbatas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi AI belum sepenuhnya terealisasi. Negara yang memiliki infrastruktur digital, tenaga kerja terampil, dan kemampuan investasi lebih baik berpeluang memperoleh manfaat lebih cepat dibandingkan negara yang masih menghadapi keterbatasan tersebut. Tonton: Target Ekonomi Prabowo 6% pada 2027, Kadin Pesimistis! Apa yang Kurang? OECD: Pemanfaatan AI di tempat kerja masih terbatas Senada dengan IMF, OECD memperkirakan AI dapat meningkatkan pertumbuhan produktivitas tahunan negara-negara anggotanya sebesar 0,4% hingga 1,2%. Namun, Kepala Ekonom OECD Stefano Scarpetta mengatakan, pemanfaatan AI oleh masyarakat sebagai konsumen masih lebih maju dibandingkan penerapannya di lingkungan kerja. Penggunaan AI untuk fungsi-fungsi utama perusahaan juga dinilai masih relatif terbatas. “Ada kesenjangan besar antara potensi penggunaan AI dan penerapannya secara nyata,” kata Scarpetta. Kesenjangan tersebut menjadi tantangan bagi perusahaan yang telah menggelontorkan investasi besar untuk mengembangkan teknologi AI. Di tengah meningkatnya biaya pinjaman, perusahaan juga menghadapi tekanan untuk membuktikan bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan. Tanpa penerapan yang efektif, besarnya investasi AI belum tentu langsung menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan. Tonton: Digugat ke MK soal 26 Anggota, Ini Jawaban Wantimpres! IMF perkirakan 40% pekerjaan dunia terdampak AI Selain berpotensi memperlebar kesenjangan antarnegara, perkembangan AI juga diperkirakan mengubah pasar tenaga kerja global. IMF memperkirakan sekitar 40% pekerjaan di seluruh dunia berpotensi terdampak AI. Dampaknya dapat berupa perubahan tugas, peningkatan produktivitas, hingga pengurangan kebutuhan tenaga kerja pada pekerjaan tertentu. Sejumlah perusahaan besar juga dilaporkan berencana mengurangi jumlah karyawan di tengah upaya efisiensi dan pemanfaatan teknologi. Bank asal Inggris, Barclays, misalnya, mengumumkan rencana memangkas sekitar 5.000 pekerjaan sepanjang 2026. Perusahaan perdagangan elektronik eBay juga dilaporkan berencana mengurangi sekitar 9% tenaga kerjanya. Sementara itu, produsen cip Qualcomm diperkirakan melakukan pengurangan karyawan secara global melalui kebijakan yang berfokus pada evaluasi kinerja. Meski demikian, tidak seluruh pengurangan tenaga kerja tersebut dapat dikaitkan langsung dengan penggunaan AI. Keputusan perusahaan juga dapat dipengaruhi strategi bisnis, kondisi keuangan, dan kebutuhan restrukturisasi. Baca Juga: IMF dan OECD Peringatkan AI Bisa Perlebar Kesenjangan Negara Kaya dan Miskin Pekerja muda paling rentan kehilangan kesempatan kerja IMF turut menyoroti risiko yang dihadapi pekerja muda dan karyawan yang baru memasuki dunia kerja. Menurut Dabla-Norris, kelompok ini berpotensi menghadapi tantangan lebih besar apabila AI mengambil alih tugas-tugas dasar yang selama ini menjadi sarana pekerja pemula untuk memperoleh pengalaman. Pekerjaan tingkat awal umumnya membantu karyawan mempelajari proses bisnis, mengembangkan keterampilan, dan membangun pengalaman sebelum beralih ke tanggung jawab yang lebih besar. Jika sebagian tugas tersebut digantikan oleh AI, kesempatan pekerja muda untuk belajar melalui pengalaman kerja dapat berkurang. Kondisi ini berpotensi mempersulit mereka dalam membangun karier, terutama apabila perusahaan juga mengurangi perekrutan untuk posisi pemula.
Karena itu, peningkatan keterampilan menjadi salah satu langkah penting untuk menghadapi perubahan pasar tenaga kerja akibat AI. Pemerintah dan dunia usaha perlu memperkuat pelatihan tenaga kerja, memperluas akses terhadap infrastruktur digital, serta memastikan pekerja memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Tanpa langkah tersebut, manfaat AI berisiko terkonsentrasi pada negara dan perusahaan yang sudah memiliki sumber daya memadai. Sebaliknya, negara berkembang dan pekerja dengan akses terbatas terhadap teknologi berpotensi semakin tertinggal dalam persaingan ekonomi global. Sumber: https://internasional.kompas.com/read/2026/10/22/193000770/imf-peringatkan-dampak-ai-negara-berkembang-dan-pekerja-muda-berisiko?page=all#page2.
Prabowo Sentil Ketimpangan Ekonomi: Selama Ini Dinikmati Kurang dari 1% Elite!