Awas! MSCI Masih Bisa Tekan IHSG Hari Ini (19/10), Cermati Saham Pilihan Berikut
Senin, 19 Oktober 2026 05:53 WIB
Oleh: Shabrina Almaira | Editor: Adi Wikanto
KONTAN.CO.ID - Jakarta. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Senin (19/10/2026). Ketidakpastian terkait evaluasi MSCI, kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS), serta risiko geopolitik menjadi sejumlah faktor yang membayangi pergerakan indeks. Pada perdagangan Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup anjlok 11,57% atau turun 678,67 poin ke level 5.185,10. Koreksi tajam tersebut juga memicu penghentian sementara perdagangan atau trading halt setelah tekanan jual membawa penurunan indeks melampaui ambang batas yang berlaku. Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan, salah satu sentimen utama yang menekan IHSG adalah pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengenai konsultasi atas usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Tekanan tersebut turut diperberat oleh kenaikan indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) AS sebesar 1,3% secara bulanan (month on month/MoM) pada September 2026, ketidakpastian geopolitik, serta pelemahan rupiah. Meski demikian, Reza mengingatkan bahwa perubahan status Indonesia belum diputuskan secara resmi. MSCI menargetkan pengumuman keputusan final paling lambat akhir Juni 2027. Baca Juga: MSCI Bikin IHSG Anjlok Ke 5.185, Ini Syarat untuk Bisa Kembali ke 6.000 Akhir 2026 Secara teknikal, Reza menilai IHSG masih berada dalam tren bearish setelah mengalami koreksi lebih dari 11% dalam sehari. Pada perdagangan Senin, volatilitas indeks diperkirakan tetap tinggi, meskipun peluang terjadinya pemulihan teknikal atau technical rebound masih terbuka. Reza mencermati level 5.000 sebagai support psikologis terdekat. Jika tekanan jual berlanjut dan level tersebut ditembus, IHSG berpotensi menguji support berikutnya di kisaran 4.800. Sementara itu, resistance awal berada pada rentang 5.200–5.300. Level tersebut menjadi acuan skenario teknikal dan belum dapat dianggap sebagai resistance yang telah terkonfirmasi. Selama IHSG belum mampu menembus kembali area resistance tersebut dan tekanan jual belum mereda, pergerakan indeks masih rentan melemah. “Untuk trading jangka pendek, kami menyarankan menunggu tekanan jual mereda sebelum masuk pasar. Namun, koreksi ini juga bisa menjadi opportunity untuk mencermati saham dengan fundamental bagus dan dividend yield tinggi. Tentunya, tidak langsung all in, tetapi masuk bertahap setelah ada tanda-tanda pasar mulai stabil,” ujar Reza kepada Kontan, Sabtu (17/10/2026). Baca Juga: MSCI Menekan IHSG, Investor Disarankan Rotasi Portofolio Ke Sektor Ini Rekomendasi Saham Pilihan Analis Sementara itu, Head of Research MNC Sekuritas Herditya Wicaksana mengatakan, IHSG mengalami koreksi agresif sebesar 14,91% dalam sepekan terakhir, disertai peningkatan tekanan jual. Menurut Herditya, pelemahan tersebut dipengaruhi aksi jual panik atau panic selling investor setelah MSCI mengumumkan proposal perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market. Namun, ia menegaskan bahwa usulan tersebut masih dalam tahap konsultasi. Keputusan final dijadwalkan pada Juni 2027 dan masih berpeluang berubah apabila terdapat perbaikan signifikan pada pasar modal Indonesia. Selain sentimen MSCI, kenaikan inflasi AS juga menjadi perhatian investor. Data resmi menunjukkan inflasi konsumen AS atau Consumer Price Index (CPI) meningkat 3,7% secara tahunan pada September 2026. Angka tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi berlanjutnya tekanan inflasi. Sementara itu, PPI AS naik 1,3% secara bulanan pada periode yang sama. Herditya memperkirakan, kondisi tersebut dapat membuat bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau menerapkan kebijakan higher for longer. Ia juga memperkirakan terdapat potensi satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026. Dari sisi geopolitik, konflik di Timur Tengah, termasuk ketegangan yang melibatkan kelompok Houthi dan pihak Arab, turut menjadi perhatian pasar. Eskalasi konflik berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap harga minyak mentah dan inflasi energi global. Tonton: Data Center Dorong Permintaan, Kawasan Industri Masuki Babak Baru Di tengah tekanan tersebut, Herditya merekomendasikan investor mencermati tiga saham, yakni PT Astra International Tbk (ASII), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Berikut kisaran harga saham yang menjadi perhatian Herditya: - PT Astra International Tbk (ASII): Rp 4.320–Rp 4.420. - PT Vale Indonesia Tbk (INCO): Rp 3.840–Rp 4.190. - PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM): Rp 1.980–Rp 2.100. “Untuk saham dapat cermati PT Astra International Tbk (ASII) dengan rentang harga Rp 4.320-Rp 4.420, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) di kisaran Rp 3.840-Rp 4.190, serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) pada kisaran Rp 1.980-Rp 2.100,” tutur Herditya.
Pemerintah Jajaki Proyek Waste to Energy, Batam Jadi Kandidat