KUALA LUMPUR. Benci tapi rindu, itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hubungan antara operator seluler dengan layanan berbasis over the top (OTT). Keberadaan layanan OTT menjadi berkah lantaran mampu mendongkrak bisnis data, sekaligus juga mengancam keberlangsungan sejumlah bisnis mereka. Whatsaap misalnya, telah mencuri 50%-90% pendapatan dari layanan suara (voice) dan pesan singkat/short messaging service (sms). Tentu saja, perusahaan operator telepon seluler (ponsel) tak bisa tinggal diam. Mereka pun kian serius menggarap bisnis digital. Axiata salah satunya. Sebagai pemain utama bisnis telekomunikasi di kancah regional, perusahaan yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia ini, terus mengembangkan layanan digitalnya.
Axiata kian serius garap layanan digital
KUALA LUMPUR. Benci tapi rindu, itulah ungkapan yang cocok untuk menggambarkan hubungan antara operator seluler dengan layanan berbasis over the top (OTT). Keberadaan layanan OTT menjadi berkah lantaran mampu mendongkrak bisnis data, sekaligus juga mengancam keberlangsungan sejumlah bisnis mereka. Whatsaap misalnya, telah mencuri 50%-90% pendapatan dari layanan suara (voice) dan pesan singkat/short messaging service (sms). Tentu saja, perusahaan operator telepon seluler (ponsel) tak bisa tinggal diam. Mereka pun kian serius menggarap bisnis digital. Axiata salah satunya. Sebagai pemain utama bisnis telekomunikasi di kancah regional, perusahaan yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia ini, terus mengembangkan layanan digitalnya.