B50 Butuh 18 Juta Ton CPO, Ekspor Sawit Indonesia Bisa Makin Menyusut



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan kebutuhan minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk program biodiesel B50 berpotensi mempersempit ruang ekspor sawit Indonesia pada 2027. Selain kebutuhan domestik yang meningkat, produksi CPO diperkirakan mengalami penurunan akibat dampak El Nino.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung menjelaskan, perubahan mandatori biodiesel dari B40 menjadi B50 akan meningkatkan kebutuhan Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Kondisi tersebut secara otomatis membuat alokasi CPO untuk memenuhi kebutuhan FAME di dalam negeri turut bertambah.

Ia memperkirakan, pada 2026 dibutuhkan sekitar 14 juta ton CPO untuk mendukung implementasi B50. Sementara itu, kebutuhan CPO untuk sektor pangan mencapai 10,2 juta ton dan oleokimia sekitar 2,2 juta ton.


Dengan demikian, total konsumsi CPO domestik Indonesia pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar 26 juta ton hingga 27 juta ton. Angka tersebut meningkat dibandingkan konsumsi domestik sekitar 24,6 juta ton pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Hilirisasi Batubara Jadi Bensin Bisa Dilakukan, Tapi Investasinya Berat

"Selanjutnya, pada tahun 2027 jika B50 diberlakukan secara penuh, maka untuk B50 diperlukan sekitar 18 juta ton CPO. Sehingga konsumsi domestik menjadi sekitar 30 juta ton," jelas Tungkot kepada Kontan, Senin (28/9/2026).

Di sisi lain, Indonesia menghadapi tantangan dari sisi produksi. Tungkot mengatakan, El Nino ekstrem yang terjadi sejak kuartal II-2026 diperkirakan masih berlanjut hingga semester I-2027. Kondisi cuaca tersebut berpotensi menekan produksi CPO Indonesia pada 2027.

"El Nino tersebut akan menurunkan produksi CPO Indonesia 6-24 bulan ke depan. Produksi CPO tahun 2025 yang mencapai sebesar 51,6 juta ton, diperkirakan turun menjadi sekitar 49.2 juta ton tahun 2026. Dan turun lagi menjadi sekitar 47,6 juta ton tahun 2027," ungkap Tungkot.

Menurut Tungkot, kombinasi antara kenaikan konsumsi domestik dan penurunan produksi CPO akan berdampak terhadap ketersediaan sawit untuk pasar ekspor. Pasokan yang tersedia akan lebih banyak diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, terutama mendukung pelaksanaan program biodiesel B50.

Baca Juga: Dorong Modernisasi Industri Peternakan Melalui Genetika Unggul dan Biosecurity

"Dengan perkiraan produksi CPO Indonesia tahun 2027 hanya sekitar 47,6 juta ton, volume CPO yang tersedia untuk ekspor dipastikan makin sedikit," terangnya.

Tungkot melihat penurunan ekspor sawit pada 2027 berpotensi menjadi konsekuensi dari pelaksanaan B50 yang saat ini menjadi salah satu prioritas pemerintah.

Meski demikian, ia menilai dampak terhadap ekspor masih dapat ditekan melalui optimalisasi sumber bahan baku biodiesel alternatif. Salah satunya dengan meningkatkan pemanfaatan minyak yang berasal dari limbah sawit.

"Dampak penurunan produksi CPO terhadap penurunan ekspor sawit dapat dikurangi dengan pemanfaatan minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO) dan minyak asam tinggi (High Acid Palm Oil Residue/HAPOR) sebagai bahan baku biodiesel," tandas Tungkot.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News