KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan implementasi biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026 sebagai langkah memperkuat ketahanan energi di tengah ketidakpastian global. Program ini telah melewati uji coba sejak akhir 2025 di berbagai moda transportasi dengan hasil yang dinilai stabil. Kepala Divisi Penyaluran Dana Bahan Bakar Nabati Zuhdi Eka Nurrakkhman dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyebut hasil uji menunjukkan kualitas biodiesel memenuhi standar.
"99,88% sampel memenuhi standar," ujarnya dalam keterangannya, Rabu (20/5/2026). Uji jalan kendaraan berat sejauh 40.000 km telah selesai, disusul kendaraan ringan pada Mei 2026. Sektor lain seperti pelayaran dan kereta api masih berjalan dan ditargetkan rampung akhir 2026.
Baca Juga: Transportasi Listrik Dinilai Jadi Kunci Tekan BBM dan Cegah Krisis Energi Meski demikian, Zuhdi menegaskan sejumlah tantangan masih membayangi, mulai dari keterbatasan kapasitas produksi, kebutuhan peningkatan infrastruktur distribusi, hingga besarnya beban insentif akibat selisih harga biodiesel dan solar. Ia juga mengingatkan potensi tekanan fiskal pada skema pembiayaan BPDP jika B50 diterapkan. "Dibutuhkan penyesuaian tarif pajak ekspor untuk menjaga keberlanjutan program," katanya. Dari sisi hulu, pemerintah menyoroti kesiapan pasokan bahan baku. Ketua Substansi Ditjen Perkebunan Ani Rahayuni Ratna Dewi menyebut produktivitas sawit rakyat masih rendah, rata-rata 3,8 ton per hektare dari potensi 5–6 ton. Kebutuhan biodiesel juga diproyeksikan terus naik, dari 16 juta kiloliter (B40) pada 2026 menjadi lebih dari 20 juta kiloliter (B50), yang berpotensi menekan ekspor jika produksi tidak ditingkatkan. Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Sawit Indonesia Gulat Manurung menilai percepatan peremajaan sawit rakyat (PSR) menjadi kunci. Ia menyoroti realisasi PSR yang masih jauh dari target serta produktivitas petani yang rendah.
Baca Juga: Krisis Energi Jadi Berkah Baru bagi Industri Hijau China "PSR harus diperkuat agar produktivitas naik," ujarnya. Dari industri, Staf Sekretariat Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Rahayu Dwi Mumpuni menyebut kapasitas produksi biodiesel terus meningkat, namun tekanan pada bahan baku dan selisih harga masih menjadi tantangan utama. Secara keseluruhan, B50 dipandang sebagai strategi penting transisi energi, namun keberhasilannya bergantung pada kesiapan pasokan sawit, pembiayaan, dan infrastruktur pendukung. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News