B50 Menopang Harga, Kinerja Dharma Satya (DSNG) Bergantung Efisiensi dan Operasional



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) hingga akhir tahun 2026 diperkirakan masih cukup positif, meski laju pertumbuhan labanya berpotensi lebih moderat.

Momentum pertumbuhan operasional yang belum sepenuhnya kuat menuntut perusahaan untuk bergantung pada efisiensi biaya serta dorongan kebijakan biodiesel domestik.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai kualitas pertumbuhan kinerja DSNG pada semester I-2026 perlu dicermati secara kritis.


Baca Juga: BEI Kembangkan Akses Saham Global bagi Investor RI Lewat Alpaca

Kendati laba bersih tumbuh 7,8% secara tahunan (YoY) menjadi Rp 986 miliar, kenaikan tersebut lebih banyak ditopang oleh pengurangan beban keuangan alih-alih dorongan operasional murni. Di sisi lain, pertumbuhan pendapatan sebesar 3,4% YoY dinilai relatif moderat. 

"Prospek H2-2026 lebih bergantung pada implementasi penuh B50 mulai Juli yang meningkatkan serapan domestik, karena momentum organik dari sisi operasional belum cukup kuat untuk menjadi driver pertumbuhan laba yang berkelanjutan," ujar Abida kepada Kontan, Selasa (1/9/2026).

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengungkapkan bahwa DSNG perlu mengandalkan pertumbuhan volume, peningkatan produktivitas kebun, perbaikan Oil Extraction Rate (OER), serta efisiensi biaya produksi untuk mengompensasi potensi penurunan harga crude palm oil (CPO) global. Ia menekankan bahwa kebijakan biodiesel domestik tidak serta-merta mengerek volume produksi kebun secara instan.

"Peningkatan kewajiban pencampuran biodiesel akan meningkatkan kebutuhan CPO domestik sehingga dapat membantu menjaga permintaan ketika harga CPO global mengalami normalisasi," jelas Nafan.

Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama menambahkan bahwa volume penjualan DSNG akan sangat ditentukan oleh realisasi produksi Tandan Buah Segar (TBS) dan CPO dari kebun sendiri.

Baca Juga: BEI Kembangkan Akses Saham Global bagi Investor RI Lewat Alpaca

Menurutnya, potensi tekanan pada margin masih terbuka lebar apabila kenaikan biaya produksi, seperti pupuk, energi, dan pembelian TBS eksternal, tidak diimbangi dengan efisiensi operasional dan perbaikan tingkat ekstraksi.

Melihat pergerakan harga saham dan fundamental perusahaan, para analis memberikan rekomendasi yang beragam untuk saham DSNG.

Abida merekomendasikan buy dengan target harga Rp 2.000 per saham berdasarkan mean P/E 3 tahun.

Sementara itu, Yudha memilih rekomendasi wait and see dengan target harga Rp 1.750 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News