Bach Multi Global (BACH) Komitmen Jaga Kinerja Hingga 2030, Begini Strateginya



KONTAN.CO.ID  - JAKARTA. Di tengah tantangan pasar saat ini, PT Bach Multi Global Tbk (BACH) optimistis untuk tetap melakukan ekspansi bisnis dan menjaga kinerja.

BACH resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 8 Juli 2026. Dia menjadi emiten keempat yang mencatatkan diri di BEI pada tahun 2026.  

Emiten Grup Djarum ini merupakan perusahaan di sektor penjualan dan penyewaan infrastruktur telekomunikasi yang didirikan pada tahun 2006.


Pada awalnya, bisnis BACH fokus pada penjualan genset untuk kebutuhan daya listrik sektor komunikasi. Selang waktu berjalan, perusahaan pun mengembangkan bisnisnya menjadi menjadi penyedia layanan terintegrasi yang mencakup konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi di berbagai wilayah Indonesia.

Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Analis Ungkap Valas Utama yang Paling Prospektif

Melansir prospektus, BACH pun saat ini punya dua segmen usaha utama yang menjadi sumber pendapatan. 

Pertama, segmen usaha penjualan dan penyewaan genset. BACH merupakan agen tunggal merek Himoinsa di Indonesia dan juga memasarkan berbagai merek genset internasional lainnya. 

Selain penjualan, BACH juga menjalankan bisnis penyewaan genset untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) maupun kebutuhan komersial berbagai proyek di Indonesia.

Kedua, segmen usaha jasa konstruksi dan pemeliharaan infrastruktur telekomunikasi. Pada segmen ini, BACH menyediakan berbagai layanan pembangunan infrastruktur telekomunikasi.

Yaitu, Site Acquisition (SITAC) Pembangunan menara BTS Pekerjaan Civil, Mechanical and Electrical (CME) Pembangunan jaringan fiber optik Kolokasi perangkat telekomunikasi Pembongkaran dan relokasi menara telekomunikasi.

Dalam aksi Initial Public Offering (IPO) bulan lalu itu, BACH menawarkan maksimal 615 juta saham baru atau setara dengan 15,06% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca IPO. 

Dengan kisaran harga penawaran Rp 400 - Rp 500 per saham, BACH akhirnya menetapkan harga IPO di level Rp 442 per saham. Alhasil perusahaan mendapatkan dana segar hingga Rp 271,83 miliar. 

 
BACH Chart by TradingView

Di hari perdana perdagangannya bahkan BACH mencetak auto rejection atas (ARA) setelah melonjak 24,43% ke posisi harga Rp 550 per saham.

Dalam penggunaan dana IPO, BACH berencana menggunakan Rp 91,02 miliar dari dana IPO setelah dikurangi berbagai biaya emisi untuk pembayaran sebagian utang kepada PT Bank Permata Tbk atas fasilitas pinjaman jangka pendek. 

Debt to equity ratio (DER) BACH juga yang semula ada di kisaran 1,3x sebelum IPO pun dipastikan perseroan akan turun menjadi 0,8x.

Sisa dana IPO lalu akan digunakan sebagai modal kerja oleh BACH, yaitu dalam rangka pembelian genset untuk dijual maupun disewakan. 

Direktur Utama BACH Budi Kurniawan bilang, langkah strategis ini menjadi fondasi bagi perseroan untuk mempercepat ekspansi bisnis di sektor penyediaan energi dan pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang terus berkembang, seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital dan keandalan pasokan listrik di Indonesia.

Saat ini BACH mengelola lebih dari 40.000 site, mendistribusikan lebih dari 20.000 unit genset, serta melayani lebih dari 200 pelanggan korporasi dari berbagai sektor strategis, termasuk perusahaan telekomunikasi, perbankan, energi, hingga pemerintah.  

Emiten di sektor industrial ini juga dipercaya oleh berbagai perusahaan besar seperti Grup Protelindo, PLN Group, Bank Mandiri, Bank Rakyat Indonesia, Huawei, dan Indosat Ooredoo Hutchison.

“Kombinasi dua lini bisnis memberikan diversifikasi pendapatan sekaligus memperkuat stabilitas bisnis melalui kontrak jangka panjang dan recurring revenue yang menjadi salah satu kekuatan utama perseroan,” katanya pasca IPO di Gedung BEI, Rabu (8/7/2026).

Baca Juga: Dolar AS Tertekan, Analis Ungkap Valas Utama yang Paling Prospektif

Dengan aksi korporasi strategis dan diversifikasi bisnis, BACH pun optimistis mampu mengantongi peningkatan pendapatan lebih dari Rp 3 triliun pada 2030, dari sebelumnya sekitar Rp 1,73 triliun pada 2025.

Dari sisi laba bersih, BACH membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp155,55 miliar pada 2025, meningkat 97,55% dibandingkan Rp78,74 miliar pada 2024. Sementara itu, jumlah laba komprehensif tahun berjalan tercatat Rp151,96 miliar, naik 90,21% dari posisi Rp79,89 miliar pada tahun sebelumnya.

Di tahun 2030, sejalan dengan proyeksi target pertumbuhan pendapatannya, BACH turut memproyeksikan laba bersih perseroan bisa naik 158% ke Rp 401 miliar.

Budi bilang, target kinerja tersebut juga ditopang oleh backlog dan pesanan yang telah dikantongi perusahaan sepanjang 2026. Sayangnya, nilai pasti target pertumbuhan pendapatan dan laba untuk tahun ini belum disebutkan secara rinci.

“Kami sangat optimistis karena melihat dari sisi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maupun lini bisnis kita di power system dan infrastruktur telekomunikasi yang menjadi kebutuhan dasar masyarakat,” paparnya.

BACH juga sudah mengantisipasi langkah dalam menghadapi fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Yaitu, dengan meningkatkan harga jual dan melakukan hedging kurs.

Direktur BACH Hasby Jap menambahkan, target pendapatan Rp 3 triliun pada 2030 tergolong moderat jika dibandingkan dengan laju pertumbuhan historis perusahaan. 

Sebab, pendapatan BACH tumbuh sekitar 39% pada periode 2023–2024, kemudian kembali meningkat sekitar 25% pada 2024–2025. 

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Pekan Depan, Data AS Jadi Kunci

Di sisi lain, target kinerja keuangan BACH juga didukung oleh ekspansi bisnis power solution, peningkatan proyek infrastruktur telekomunikasi, efisiensi operasional, serta penurunan beban keuangan setelah IPO. 

Strategi pertumbuhan tersebut akan difokuskan pada penambahan kapasitas penyewaan pembangkit listrik hingga 50 megawatt (MW) per tahun, pengembangan lini bisnis energi baru, serta peningkatan proyek pembangunan jaringan telekomunikasi.

Lalu, penguatan pendapatan berbasis kontrak jangka panjang, serta transformasi operasional melalui digitalisasi dan peningkatan kualitas layanan kepada pelanggan.

Dalam 3 tahun ke depan, BACH berencana akan menambah armada fleet untuk rental maupun penjualan genset. “Kami juga ke depan hendak fokus ke hybrid power, solar panel dengan baterai, serta energy storage system,” paparnya.

Selain itu, keberadaan Grup Djarum di belakang BACH juga menjadi salah satu jaminan perseroan dalam menjaga kinerja ke depan. Asal tahu saja, kepemilikan anak usaha Djarum, PT Global Telekomunikasi Prima (GTP), sebagai pengendali dan pemegang saham mayoritas mencapai 51% dari total saham BACH.

Komisaris Utama BACH, Anita Anwar bilang bahwa kehadiran GTP sebagai pengendali saham BACH memperkuat posisi fundamental perusahaan.

Sebab, GTP merupakan perusahaan telekomunikasi yang sejalan dengan kekuatan BACH dalam lini bisnis pembangunan infrastruktur dan perawatan telekomunikasi. Artinya, sinergitas dan kolaborasi antara GTP dan BACH akan terjalin dengan harmonis.

Baca Juga: Bitcoin Naik 20% dalam 48 Jam, Portofolio Strategy Kembali Untung

“Sebagai pengendali, kami akan mengetahui tentang profit dan mekanisme yang lebih ke arah perkembangan bisnis,” ungkapnya.

Melansir RTI, saham BACH saat ini ada di level Rp 482 per saham. Harganya sudah turun 9,06% dalam sebulan terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News