Badai AS dan Iran Panaskan Minyak Dunia, Apa Dampaknya terhadap Harga BBM?



KONTAN.CO.ID – LONDON. Harga minyak dunia bergerak naik tipis pada perdagangan Senin (26/1/2026), melanjutkan penguatan signifikan lebih dari 2% pada sesi sebelumnya.

Kenaikan ini didorong oleh gangguan produksi di sejumlah wilayah penghasil minyak utama Amerika Serikat (AS) akibat cuaca ekstrem, serta meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran.

Mengacu data Reuters, harga minyak mentah Brent naik 23 sen atau 0,4% menjadi US$ 66,11 per barel pada pukul 09.05 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 19 sen atau 0,3% ke level US$ 61,26 per barel.


Kedua acuan harga tersebut membukukan kenaikan mingguan sebesar 2,7% pada akhir pekan lalu, sekaligus menutup perdagangan Jumat di level tertinggi sejak 14 Januari.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Terus Naik Senin (26/1) Pagi: Brent ke US$66 dan WTI ke US$61,21

Analis Senior Pasar Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, mengatakan badai musim dingin Fern yang melanda pesisir AS memaksa penghentian sementara produksi di wilayah penghasil minyak dan gas utama, serta menambah tekanan pada jaringan listrik. Kondisi ini memperketat pasokan fisik minyak di pasar.

Menurut catatan analis JPMorgan pada Senin, sekitar 250.000 barel per hari produksi minyak mentah AS hilang akibat cuaca ekstrem tersebut. Penurunan produksi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk ladang Bakken di Oklahoma serta beberapa area di Texas.

Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati meningkatnya risiko geopolitik. Ketegangan antara AS dan Iran kembali memanas setelah Presiden AS Donald Trump pekan lalu menyatakan bahwa AS telah mengirimkan “armada” menuju Iran, meskipun ia berharap tidak perlu menggunakannya.

Trump juga memperingatkan Teheran agar tidak membunuh demonstran maupun mengaktifkan kembali program nuklirnya.

Dalam catatan risetnya, SEB menyebut bahwa cuaca musim dingin ekstrem di AS yang meningkatkan permintaan minyak pemanas serta potensi gangguan pasokan minyak AS menjadi pendorong kenaikan harga di akhir pekan lalu.

Baca Juga: Peta Pasokan Bergeser: India Kini Borong Minyak dari Sumber Tak Terduga

Namun, ancaman AS terhadap Iran, termasuk pengerahan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, dinilai menjadi faktor yang lebih dominan dalam mendorong sentimen bullish.

Menanggapi hal tersebut, seorang pejabat senior Iran pada Jumat menyatakan bahwa negaranya akan menganggap setiap serangan sebagai “perang total” terhadap Iran.

Sementara itu, dari sisi pasokan global, Kazakhstan’s Caspian Pipeline Consortium mengumumkan telah kembali beroperasi penuh di terminalnya di pesisir Laut Hitam pada Minggu setelah menyelesaikan pemeliharaan di salah satu dari tiga titik tambatnya.

Tengizchevroil, operator ladang minyak raksasa Tengiz di Kazakhstan, juga menyatakan telah memulai pemulihan produksi secara bertahap setelah mengalami penghentian operasi yang cukup lama.

Selanjutnya: Psikolog Soroti Manfaat Mengoleksi Kartu, OH!SOME Hadirkan Koleksi Global di 2026

Menarik Dibaca: 4 Manfaat Kesehatan Konsumsi Yogurt Setiap Hari, Apa Saja?