KONTAN.CO.ID - JAKARTA. . Ekonomi berkelanjutan menjadi perhatian banyak pihak, seperti pemerintah dan perusahaan. Maka, Badan Standardisasi Nasional (BSN) menggelar Bulan Mutu Nasional (BMN) dengan tema, Standarsisasi untuk Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan “BMN menjadi sebuah momentum bagi seluruh stakeholder, untuk bersama-sama menciptakan dunia yang lebih baik melalui pemantapan infrastruktur mutu seperti, standardisasi dan penilaian kesesuaian (akreditasi, sertifikasi, inspeksi) dan ketertelusuran pengukuran,” ujar Kepala BSN, Kukuh S Achmad, dalam rilis yang diterima Kontan.co.id, Rabu (15/11). Hajatan tahunan kali ini diikuti oleh 2.000 peserta dari berbagai kementerian, lembaga pemerintah, instansi swasta, pelaku usaha, asosiasi dan akademisi seluruh Indonesia. Perusahaan nasional dan multinasional yang menerapkan Standar Nasional Indonesia (SNI). Mereka adalah PT Pupuk Indonesia, PT Pupuk Kujang, PT Pupuk Kaltim, PT Mutu Agung Lestari, Tbk dan PT Anindya Wiraputra Konsult.
Dalam pemaparannya, Kukuh memberikan catatan negatif terhadap kegiatan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang tidak efisien dalam menghasilkan barang atau jasa. Hal ini, dapat dilihat dari tingginya emisi gas rumah kaca. “Menurut data dari Climate Watch, pada 2020 Indonesia menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sekitar 1,48 M ton/gigaton atau setara 3,1 persen emisi GRK global. Adapun emisi terbesar Indonesia berasal dari sektor industri dan yang kedua transportasi,” ungkapnya. Baca Juga: Kisah Mereka yang Menampung Rupiah dari Aliran Setrum Sinar Matahari Untuk itu, pemerintah berkomitmen melakukan preservasi lingkungan antara lain melalui implementasi ekonomi sirkular, environmental social governance (ESG), mereduksi emisi GRK, dan sepakat mencapai Net Zero Emissions (NZE) 2060.