KONTAN.CO.ID - Dalam dunia investasi, nama Warren Buffett sudah menjadi legenda, bukan karena dia selalu punya prediksi sempurna, melainkan karena cara berpikirnya yang luar biasa stabil dari sisi psikologis. Dikutip dari Investopedia, keberhasilan Buffett sangat dipengaruhi oleh tingkat emotional intelligence (EQ) yang tinggi, bukan sekadar kecerdasan analitis. Mari kita telaah bersama bagaimana Buffett menerapkan EQ-nya, dan bagaimana kita, sebagai investor biasa, dapat belajar dari pendekatannya.
Mengapa Buffett Utamakan Temperamen daripada Hanya Kecerdasan
Buffett pernah menegaskan bahwa kesuksesan investasi tidak lahir dari rumus rumit, program komputer, atau sinyal pasar semata. Sebaliknya, ia percaya bahwa penilaian bisnis yang baik harus dipadukan dengan kemampuan mengelola emosi agar tidak terbawa arus kepanikan pasar. Dalam surat tahun 1987 kepada pemegang saham Berkshire Hathaway, Buffett menuliskan bahwa investor sukses bukanlah mereka yang paling pintar, melainkan mereka yang mampu menjaga pikiran tetap tenang di tengah badai emosi pasar.Empat Unsur Emotional Intelligence ala Buffett
Menurut Investopedia, strategi EQ Buffett dapat dirangkum lewat empat karakteristik penting: kesabaran, disiplin, keterlepasan (detachment), dan kesadaran diri.- Kesabaran: Buffett mau menunggu kesempatan yang tepat, tidak terburu-buru mengikuti tren sesaat.
- Disiplin: Ia menetapkan kriteria investasi sendiri (nilai jangka panjang, fundamental), lalu konsisten mengikuti aturan tersebut.
- Keterlepasan (Detachment): Menjaga jarak dari heboh media, agar tidak bereaksi berlebihan terhadap fluktuasi pasar.
- Kesadaran diri: Ia tahu “lingkar kompetensinya”, yaitu area investasi yang benar-benar ia pahami, dan menghindari terjun ke bidang yang di luar kapabilitasnya.
Cara Praktis Menerapkan EQ ala Buffett
Kita memang bukan Buffett, tapi kita bisa meniru sebagian pendekatannya. Berikut beberapa kiat praktis agar kita bisa meningkatkan EQ dalam berinvestasi:- Berpikir jangka panjang
- Terapkan aturan sendiri
- Kurangi paparan berita yang memprovokasi
- Catat keputusan Anda
Tantangan Besar Buffett: 2008 sebagai Ujian EQ
Saat krisis keuangan 2008 menerjang, Buffett pun menghadapi tekanan hebat: Harga saham jatuh, ekonomi melemah, pasar kacau. Namun ia tetap memegang prinsip-prinsipnya:- Mempertahankan likuiditas, agar tetap bisa bereaksi bila ada peluang.
- Fokus pada perusahaan dengan moat (keunggulan kompetitif) jangka panjang.
- Menjaga manajemen berkualitas dalam portofolio Berkshire.
- Keputusan-keputusan itu menunjukkan bahwa EQ bukan sekadar teori, melainkan senjata nyata saat kondisi ekstrem.