KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah melemah di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) menutup pekan, Jumat (7/2). Mengutip Bloomberg, rupiah loyo 0,29% ke level Rp 13.675 per dolar AS. Sementara itu, berdasar kurs tengah Bank Indonesia (BI), rupiah mengalami penguatan sebesar 0,10% di angka Rp 13.647 per dolar AS. Ekonom Samuel Asset Management Lana Soelistianingsih menyebutkan, pergerakan rupiah yang mengalami pelemahan lebih dipengaruhi faktor teknikal. Sentimen positif dari data domestik yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia (BI) berupa cadangan devisa Januari 2020 sebesar US$ 131,7 miliar alhasil tidak terlalu berpengaruh.
Baca Juga: Rupiah melemah pada pekan ini, simak prediksinya untuk pekan depan Padahal, cadangan devisa Januari 2020 itu hampir mengalahkan rekor tertinggi cadangan devisa Januari 2018 sebesar US$ 132 miliar. Analis Monex Investindo Futures Andian Wijaya mengatakan pelemahan rupiah bukanlah imbas dari data ekonomi domestik. Adapun rupiah bergerak melemah disebabkan oleh sentimen positif yang diterima oleh dollar Amerika Serikat. Rilisnya data non-farm payroll Amerika Serikat yang berhasil menambahkan 225.000 pekerjaan di Januari 2020 ini membuat sentimen terhadap dollar naik secara signifikan. “Murni karena dolar,” jelas Andian. Fluktuasi yang terjadi saat ini diakibatkan masih oleh isu wabah virus korona, yang telah menerpa pasar semenjak pertengahan Januari kemarin. Sehingga pelaku pasar lebih memilih beralih ke aset-aset aman, seperti logam mulia, emas, dan mata uang yen. Lana memprediksi pergerakan rupiah Senin (10/2), masih ada potensi pelemahan. Pelemahan itu tapi tidak akan signifikan. Berbeda, Andian justru menilai rupiah masih akan berpotensi untuk menguat walaupun tidak signifikan.