Bagi Paus Leo, Risiko Kiamat AI Menjadi Perhatian Utama



KONTAN.CO.ID - Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi perhatian serius Vatikan.

Paus Leo memperingatkan bahwa perkembangan teknologi AI yang sulit dikendalikan dapat membawa risiko terhadap keamanan, perdamaian internasional hingga masa depan masyarakat.

Peringatan tersebut kembali disampaikan Paus Leo dalam pertemuan di Vatikan pada Kamis (24/9/2026).


Baca Juga: Saudi Keluarkan Peringatan Bahaya di Mekkah, Tabuk, Jeddah, dan Yanbu

Ia menilai, AI memiliki potensi memberikan manfaat bagi umat manusia, tetapi sekaligus menghadirkan “bahaya baru bagi keamanan dan perdamaian internasional”.

Leo menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk mengelola perkembangan teknologi tersebut secara bijaksana dan mendorong adanya tata kelola global terhadap industri AI.

Penasihat utama Vatikan untuk isu AI, Romo Paolo Benanti, mengatakan kekhawatiran tersebut bukanlah respons baru terhadap perkembangan industri AI.

Menurut dia, Vatikan telah membahas risiko teknologi tersebut jauh sebelum sejumlah perusahaan teknologi Amerika Serikat mulai menyerukan perhatian lebih besar terhadap potensi ancaman AI.

“Daya transformasi AI dapat menghasilkan perubahan sosial dalam skala yang sangat sulit diprediksi,” kata Benanti kepada Reuters.

Benanti mengatakan perkembangan AI berpotensi membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat.

Karena itu, diperlukan pembahasan lintas negara untuk menentukan batas dan mekanisme pengawasan terhadap teknologi tersebut.

Baca Juga: SoftBank Cari Utang US$ 11,1 Miliar untuk Biayai Ekspansi AI dan OpenAI

Dorong aturan global

Leo, yang merupakan paus pertama kelahiran Amerika Serikat, telah berulang kali mengangkat risiko AI sejak awal masa kepemimpinannya.

Pada Mei lalu, ia menyerukan kepada para pemimpin dunia untuk membangun aturan global yang mengatur perkembangan industri AI.

Dalam dokumen besar pertamanya sebagai paus, Leo memperingatkan bahwa sistem AI dapat memperkuat penyebaran informasi yang keliru, memprioritaskan konflik dan berpotensi membawa dunia menuju perang tanpa akhir.

Seruan tersebut kembali ditegaskan Kardinal Pietro Parolin, diplomat utama Vatikan, dalam sebuah acara di Roma pekan lalu.

Ia menilai, negara-negara tidak dapat mengatur perkembangan AI secara sendiri-sendiri.

“Masa depan umat manusia benar-benar dipertaruhkan di sini,” ujar Parolin.

Ia menyerukan keterlibatan berbagai pihak untuk membangun aturan bersama yang dapat mengatur perkembangan AI.

Perhatian terhadap risiko AI juga meningkat di kalangan industri teknologi. Sejumlah pimpinan perusahaan AI seperti Anthropic, OpenAI dan xAI sebelumnya ikut menyerukan perlunya perhatian terhadap potensi risiko perkembangan teknologi tersebut.

Di Amerika Serikat, konferensi para uskup Katolik pada 16 September juga membentuk satuan tugas baru mengenai AI.

Langkah tersebut dilakukan setelah sejumlah pemimpin organisasi bertemu dengan eksekutif perusahaan teknologi.

Baca Juga: Ekonomi Jerman Diproyeksi Tumbuh 1,3% pada 2026, Naik dari Perkiraan Sebelumnya

Risiko AI dan senjata otonom

Salah satu perhatian utama Leo adalah penggunaan AI dalam sistem persenjataan. Dalam dokumen yang diterbitkan Mei lalu, ia menyoroti perkembangan senjata yang dinilai telah semakin sulit berada dalam jangkauan pengawasan manusia.

Vatikan telah membahas risiko teknologi AI sejak 2019 melalui sejumlah konferensi mengenai dampak teknologi tersebut.

Pada 2020, Vatikan juga bekerja sama dengan Microsoft, IBM, Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), serta pemerintah Italia untuk mendorong pengembangan AI yang tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan keuntungan atau penggantian tenaga kerja manusia.

Benanti membandingkan tantangan AI dengan ancaman senjata nuklir. Namun, menurut dia, terdapat perbedaan penting karena senjata nuklir dapat dihitung dan dikontrol secara fisik, sedangkan AI bersifat lebih tersebar dan tidak mudah terlihat.

Perkembangan AI generatif juga dinilai dapat memengaruhi ruang sosial. Menurut Benanti, manipulasi konten berbasis AI dapat mengganggu kemampuan masyarakat untuk membangun kepercayaan dan mempertahankan hubungan sosial.

Karena itu, perhatian Vatikan terhadap AI tidak hanya menyangkut perkembangan teknologi, tetapi juga dampaknya terhadap keamanan, ekonomi, dunia kerja, informasi dan tatanan sosial.

Baca Juga: Bursa China Jatuh 1,7% Kamis (24/9), Investor Waspadai Hasil Pertemuan Trump-Xi