Bahan Baku Impor Mahal, Champion Pacific Siapkan Strategi Produksi Kemasan Baru



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta konflik geopolitik global yang masih berlangsung mulai memberikan tekanan terhadap biaya bahan baku impor di berbagai sektor industri. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah industri kemasan farmasi.

PT Champion Pacific Indonesia Tbk (IGRA) mengakui kenaikan harga bahan baku impor menjadi tantangan yang harus dihadapi perusahaan. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, perseroan menyiapkan sejumlah strategi, termasuk memproduksi kemasan berbentuk pouch atau kantong plastik yang dapat digunakan berulang kali.

Direktur PT Champion Pacific Indonesia Tbk Hiroaki Emoto mengungkapkan bahwa perusahaan tengah mengembangkan produksi pouch yang dilengkapi dengan spout atau corong sebagai bagian dari diversifikasi produk sekaligus efisiensi biaya.


"Sementara ini yang kita lakukan contohnya dengan membuat pouch atau kantong plastik yang ada spoutnya gitu," ujar Hiroaki Emoto di Bekasi, Selasa (9/6/2026).

Menurut Hiroaki, perusahaan telah memiliki fasilitas dan peralatan yang mendukung produksi kemasan tersebut. Bahkan, dalam waktu dekat Champion Pacific Indonesia juga berencana menambah mesin produksi guna memperkuat kapasitas manufakturnya.

Baca Juga: PT Champion Pacific Indonesia (IGAR) Bukukan Pendapatan Usaha Tahun 2025 Tumbuh 5,5%

Langkah pengembangan produk ini menjadi salah satu strategi perusahaan untuk menjaga efisiensi di tengah lonjakan harga bahan baku kemasan yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

"Yang kita lakukan sekarang setidaknya walaupun harga raw material atau bahan naik dan dolar pun naik, itu kita nanti tetap mengambil margin yang seharusnya kita ambil," ucap dia.

Selain mengembangkan produk pouch, Champion Pacific Indonesia juga tengah mengupayakan produksi kantong infus secara mandiri dengan memanfaatkan peralatan yang telah disiapkan. 

Ke depan, perseroan juga akan memperkuat fokus bisnisnya pada segmen kemasan untuk industri farmasi. Manajemen menargetkan komposisi bisnis perusahaan didominasi sekitar 90% untuk sektor pharmaceutical, sementara sekitar 10% sisanya berasal dari segmen non-pharmaceutical.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News