JAKARTA. Kinerja industri produk kayu dan hasil hutan di Indonesia terus merosot sejak dua tahun terakhir. Hal itu terjadi karena pengusaha kesulitan memperoleh bahan baku kayu. Memang, bahan baku kayu melimpah. Tapi untuk mendapatkannya, pengusaha harus mengaluarkan biaya tinggi untuk transportasi dari sumber kayu ke pabrik. Robiyanto Koestomo, Ketua Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Pertambangan Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) mengatakan, harga bahan baku kayu di dalam negeri sebenarnya lebih murah daripada impor. Sayangnya, jika dihitung dengan biaya perjalanan untuk sampai ke pabrik, harganya menjadi lebih mahal. "Pengusaha terhambat dengan high cost selama perjalanan," kata Robiyanto, Senin (9/5). Ia menyayangkan hal ini terjadi di Indonesia yang notabene terkenal kaya akan bahan baku kayu. Imbasnya, kesulitan bahan baku kayu ini dirasakan oleh semua jenis industri seperti plywood dan furnitur.
Bahan baku susah, industri produk kayu merosot
JAKARTA. Kinerja industri produk kayu dan hasil hutan di Indonesia terus merosot sejak dua tahun terakhir. Hal itu terjadi karena pengusaha kesulitan memperoleh bahan baku kayu. Memang, bahan baku kayu melimpah. Tapi untuk mendapatkannya, pengusaha harus mengaluarkan biaya tinggi untuk transportasi dari sumber kayu ke pabrik. Robiyanto Koestomo, Ketua Bidang Pertanian, Kehutanan, dan Pertambangan Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) mengatakan, harga bahan baku kayu di dalam negeri sebenarnya lebih murah daripada impor. Sayangnya, jika dihitung dengan biaya perjalanan untuk sampai ke pabrik, harganya menjadi lebih mahal. "Pengusaha terhambat dengan high cost selama perjalanan," kata Robiyanto, Senin (9/5). Ia menyayangkan hal ini terjadi di Indonesia yang notabene terkenal kaya akan bahan baku kayu. Imbasnya, kesulitan bahan baku kayu ini dirasakan oleh semua jenis industri seperti plywood dan furnitur.