Bahana: Sektor otomotif akan berkibar tahun depan



JAKARTA. Memasuki semester II tahun ini, perekonomian Indonesia mulai bergeliat. Setidaknya, hal itu tercermin dari pertumbuhan sejumlah sektor mulai pertambangan dan energi, konsumer, hingga otomotif.

Menurut Analis Bahana Securities Leonardo Henry Gavaza, pemulihan yang terjadi saat ini bukan bersifat sementara, namun diyakini merupakan permulaan dan bakal semakin membaik pada 2017.

"Masa-masa yang terburuk itu telah berlalu, meski pertumbuhan masih akan flat sampai akhir tahun ini, namun tahun depan pemulihan akanĀ  semakin terasa," kata Leonardo.


Dia memprediksi, salah satu sektor yang akan menikmati pemulihan ekonomi adalah sektor otomotif. Sekadar mengingatkan, sektor otomotif ini sudah tertekan selama dua tahun terakhir akibat rendahnya tingkat permintaan.

Indikator-indikator perekonomian seperti tren penurunan suku bunga, inflasi stabil rendah, penguatan nilai tukar rupiah dan pertumbuhan ekonomi yang membaik menjadi sweetener bagi sektor otomotif memasuki 2017.

"Bahana memperkirakan, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% pada tahun depan, naik dari proyeksi tahun ini sebesar 5,1%, hal itu akan mendorong kenaikan volume penjualan mobil sebesar 15% menjadi 1,2 juta unit pada 2017, dibandingkan proyeksi volume penjualan tahun ini sekitar 1,04 juta unit," urainya.

Angka tersebut, lanjut Leonardo, sudah mendekati pencapaian pada 2014, dimana penjualan mobil mencapai 1,21 juta unit.

Hengkangnya PT Mazda Motor Indonesia dan PT Ford Motor Indonesia dari pasar domestik ternyata tidak memberi pengaruh besar terhadap permintaan mobil karena market share kedua distributor mobil ini masing-masing hanya sekitar 1%. Catatan Bahana menunjukkan, market share terbesar masih dipegang oleh PT Astra International yang diperkirakan akan mencapai 58% pada 2017, melesat naik dibanding pencapaian 2015 sebesar 50%.

Membaiknya harga komoditas juga menjadi angin segar bagi permintaan kendaraan roda empat di luar pulau Jawa. Pasalnya, bila harga komoditas stabil saja di level saat ini hingga tahun depan, maka pendapatan masyarakat di luar pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sumatera akan naik dan itu akan mempengaruhi kenaikan permintaan mobil yang akan ikut terdongkrak.

Kendati demikian, lanjut Leonardo, ada beberapa sentimen negatif yang bisa mempengaruhi penjualan mobil tahun depan. Pertama, penerapan tarif electronic road pricing atau lebih dikenal dengan ERP oleh pemerintah yang terlalu mahal. "Sentimen ini akan memangkas permintaan mobil murah," kata Leonardo.

Kedua, rencana kenaikan pajak untuk kendaraan low cost green car atau disingkat LCGC menjadi 10%.

ASII semakin melaju

Di sisi lain, permintaan mobil yang merangkak naik tentunya berpengaruh terhadap pendapatan dan laba bersih perusahaan-perusahaan yang memproduksi mobil dan ban di dalam negeri, seperti Astra International, Indomobil Sukses International dan Gajah Tunggal. Apalagi perang diskon antara produsen mobil ini sudah mulai berkurang.

Itu sebabnya, Bahana menaikkan proyeksi laba bersih Astra (ASII) menjadi Rp 20,09 triliun dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 19,75 triliun untuk 2017, sedangkan akhir tahun ini ASII diperkirakan akan membukukan laba bersih sebesar Rp 16,36 triliun. Total penjualan diperkirakan akan mencapai Rp 206,94 triliun, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar Rp 201,62 triliun. Sedangkan akhir tahun ini total penjualan diperkirakan mencapai Rp 182,47 triliun.

"Astra sudah mulai mengeluarkan produk-produk LCGC yang disukai oleh masyarakat pada kuartal tiga seperti Calya dan Sigra, strategi ini akan mampu mendongkrak penjualan mereka untuk tahun depan, sedangkan produsen lainnya masih menunggu perbaikan ekonomi dulu baru nanti mereka akan mengeluarkan produk baru," terang Leonardo.

Dengan pemulihan ekonomi yang akan tumbuh semakin baik pada tahun depan, sehingga memberi dampak positif terhadap pertumbuhan industri otomotif di dalam negeri, Bahana memberikan rekomendasi beli untuk ASII,IMAS dan GJTL dengan target price ASII Rp 10.000, target price IMAS sebesar Rp 2.000, dan target price GJTL sebesar Rp 1.700 untuk sepanjang 2017.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Barratut Taqiyyah Rafie