KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan pembangunan kilang minyak baru bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM). "Itu hasil daripada Satgas hilirasi, salah satu yang kita kaji kita harus punya
refinary. Kenapa? karena
refinary kurang lebih sekitar 30-40% dari total kebutuhan kita. Selebihnya kita impor. Kemudian kita bilang, kita harus pembangunan refinary baru," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (29/7).
Pernyataan Bahlil senada dengan keterangan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang menekankan bahwa pemerintah akan membangun 17 unit kilang baru berskala kecil
(small refinery) di dalam negeri. Ia membantah pemberitaan yang menyebut pembangunan kilang akan dilakukan di Amerika Serikat (AS).
Baca Juga: Menilik Rencana Pemerintah Bangun 17 Kilang Minyak di Dalam Negeri "Jadi kalau misalnya kita mau membeli
refinery, dan kembali
refinery salah satu penerbitan [media] salah. Kita tidak membangun
refinery di Amerika Serikat, tapi membangun refinery di Indonesia. 17 unit refinery di Indonesia sifatnya small refinery, Pak Presiden mengarahkan kebutuhan itu dipecah tidak disatu karena logistiknya akan lebih murah, lebih mudah dan lebih efisien,” ujar Airlangga dalam agenda yang disiarkan melalui kanal YouTube, Senin (27/7). Kilang modular tersebut akan dibangun tersebar di berbagai lokasi untuk meningkatkan efisiensi logistik dan distribusi energi. Presiden Prabowo Subianto disebut telah memberikan arahan langsung agar proyek kilang ini menjadi prioritas pembangunan energi nasional. Airlangga menyebut proyek 17 kilang ini masuk dalam paket kerja sama strategis antara Indonesia dan AS, termasuk komitmen impor minyak mentah dan produk pertanian dari Negeri Paman Sam senilai total US$ 20 miliar. CEO Danantara Rosan Roeslani menjelaskan, kilang-kilang baru akan dirancang untuk mengolah
crude oil dari AS yang memiliki karakteristik berbeda dengan minyak mentah yang biasa diolah kilang domestik saat ini.
“Nah
refinery itu harus sesuai dengan karakteristik dari setiap
crude oil yang diimpor kalau dari Amerika, investasinya juga kita sesuaikan,
refinery nya juga dari karakteristik
crude oil dari negara tersebut,” jelas Rosan di Jakarta, Selasa (29/7). Rosan menambahkan, saat ini pihaknya masih dalam tahap awal pembahasan bersama Kementerian ESDM, termasuk soal lokasi dan model bisnis proyek. Meski masih dalam proses penjajakan, ia memastikan seluruh proses tetap mengacu pada regulasi Indonesia dan akan dilakukan secara hati-hati.
Baca Juga: Bukan di AS, 17 Kilang Minyak Bakal Dibangun di Indonesia Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News