Bahlil: Investor Sudah Siap Bangun Storage Minyak 90 Hari di Sumatra



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan rencana pembangunan fasilitas penyimpanan minyak mentah (crude oil storage) berkapasitas hingga 90 hari di wilayah Sumatra terus dipercepat. Pemerintah telah mengantongi calon investor untuk merealisasikan proyek strategis tersebut.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, rencana pembangunan storage tersebut telah dilaporkan kepada Presiden dan mendapat arahan agar segera direalisasikan. Pembangunan fasilitas penyimpanan minyak menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

“Saya sudah melaporkan kepada Bapak Presiden dan Bapak Presiden memberikan arahan agar segera bangun. Supaya apa? Ini kan kita butuh survival. Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Rabu (4/3/2026) malam.


Baca Juga: Giliran Produsen Batubara Minta DMO ke PLTU Dipotong Hingga 50%, PLN Protes!

Bahlil menegaskan percepatan pembangunan storage menjadi satu-satunya langkah untuk meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional. Ia memastikan investor untuk proyek tersebut sudah tersedia.

“Ya investasinya sudah ada, investornya sudah ada. Sudah siap,” katanya.

Ia menjelaskan pendanaan proyek ini akan berasal dari kombinasi investor dalam negeri dan luar negeri. Namun, Bahlil memastikan investasi tersebut tidak berasal dari Amerika Serikat.

“Investasinya bisa blending antara dalam negeri dan dari luar. Tapi bukan dari AS,” tambahnya.

Bahlil juga membuka peluang keterlibatan pihak swasta dalam pembangunan fasilitas penyimpanan tersebut.

Baca Juga: Jababeka (KIJA) Bukukan Marketing Sales Rp 3,65 Triliun Sepanjang 2025

Adapun storage yang akan dibangun difokuskan untuk menyimpan minyak mentah. Menurutnya, jika pasokan crude oil tersedia, maka proses produksi BBM dapat berjalan melalui fasilitas kilang yang sudah ada.

“Kalau crude-nya ada, BBM-nya kan tangkinya bisa jalan. Dan kita lihat ekspansinya, kalau memang itu dibutuhkan untuk kita bangun untuk BBM jadinya, itu kan di kilang sebenarnya. Tinggal kita meminta kepada kilang-kilang Pertamina menambah tangki-tangkinya,” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian ESDM menargetkan pembangunan fasilitas penyimpanan minyak baru di Sumatra dapat dimulai pada tahun ini. Saat ini studi kelayakan atau feasibility study (FS) proyek tersebut masih berlangsung.

Bahlil mengatakan langkah ini diambil untuk memperpanjang daya tahan cadangan energi nasional yang saat ini masih terbatas.

Saat ini standar minimum nasional untuk cadangan BBM ditetapkan selama 21 hari. Bahlil memastikan rata-rata stok BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini sudah berada di atas batas minimum tersebut, termasuk untuk mengantisipasi kebutuhan selama Idulfitri.

Meski demikian, secara kapasitas infrastruktur, fasilitas penyimpanan energi Indonesia saat ini maksimal hanya mampu menopang kebutuhan sekitar 25 hingga 26 hari.

Menurut Bahlil, kapasitas tersebut masih jauh di bawah standar internasional yang umumnya mensyaratkan cadangan energi strategis hingga 90 hari atau sekitar tiga bulan. Karena itu, pembangunan storage baru menjadi langkah penting agar Indonesia lebih siap menghadapi gejolak global, baik akibat konflik geopolitik maupun gangguan rantai pasok energi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News