Bahlil pepet produsen pipa asal Belanda untuk investasi Rp 1,7 triliun di KIT Batang



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia melakukan pertemuan dengan produsen pipa global Wavin BV di Den Haag pada hari Kamis (19/11). Hasilnya, Wavin akan berinvestasi di Indonesia senilai US$ 125 juta atau setara Rp 1,7 triliun.

“Kami menawarkan Wavin bisa membangun pabriknya di Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang. KIT Batang menawarkan harga tanah yang sangat kompetitif, fasilitas dan infrastruktur juga sangat memadai,” ujar Bahlil dalam keterangan resminya yang diterima Kontan.co.id, Senin (23/11).

Bahlil bilang, Wavin berencana akan membangun pabriknya di salah satu lokasi di Pulau Jawa. Namun, berdasarkan kalkulasi logistik dan transportasi, wilayah tersebut kurang efisien. Sementara itu KIT Batang  siap menyediakan lahan seluas 20 Ha untuk dijadikan lokasi investasi. 


Baca Juga: Sri Mulyani: Penerimaan pajak terkontraksi salah satunya akibat insentif pajak

"Bila anda memasok bahan baku dari Cilegon, Banten, maka Batang bisa dijangkau dengan transportasi kereta api, karena di Batang sudah tersedia jalur stasiun kereta sehingga akan menunjang biaya logistik yang lebih murah,” tambah Bahlil.   

Adapun rencananya Wavin akan berinvestasi di Indonesia sampai US$ 125 juta atau Rp 1,7 triliun di Indonesia dengan target produksi pada tahun 2022. Diharapkan pabrik baru tersebut dapat menyerap sebanyak 400-500 tenaga kerja secara langsung. 

Bahlil mengatakan, dengan masifnya pembangunan infrastruktur di Indonesia, Wavin dapat berperan sebagai pemasok kebutuhan pipa dan dapat memenuhi kebutuhan pipa nasional. Di sisi lain, dengan adanya kebijakan pemerintah memperketat impor untuk kebutuhan material pembangunan infrastruktur, Wavin telah mengambil langkah yang tepat dengan rencana pembangunan pabriknya di Indonesia.

Sepak terjang Wavin yang telah beroperasi di 25 negara di Asia, Australia, Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Amerika Utara mendorong perusahaan untuk memperkuat kehadirannya di pasar Asia Pasifik. Alhasil, Wavin menjatuhkan pilihannya ke Indonesia untuk dijadikan hub di Asia Pasifik.

Baca Juga: Meski produksi turun, penerimaan cukai rokok masih mengepul

Sebagai info, sebelumnya Wavin sudah bekerja sama dengan perusahaan lokal untuk memproduksi pipa plastik dengan merek Wavin, namun kerja sama itu telah berakhir dua tahun lalu. "Namun Wavin ingin hadir secara independen dengan entitas baru, yaitu proyek diversifikasi pertama Wavin di Indonesia” jelas Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal BPKM Ikmal Lukma, Senin (23/11).

Bila melisik, performa investasi Belanda di Indonesia sejak tahun 2015 hingga September 2020, Belanda berada di peringkat keenam dengan nilai total US$ 8,8 miliar.  Dalam periode itu, Belanda merupakan negara Eropa pertama dalam peringkat sepuluh besar investasi Indonesia. 

Berdasarkan sektor, minat investasi Belanda di Indonesia tercatat pada sektor listrik, gas, dan air (35,1%), transportasi gudang dan telekomunikasi (22,5%), pertambangan (17,3%), industri kimia dan farmasi (6,5%), industri makanan (4,7%), dan serta sektor lainnya (13,8%).

Selanjutnya: Arus modal asing masih mengalir masuk, ini kata ekonom Indef

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi