Bahlil: RI Bakal Ekspor Listrik Selama Harga Cocok



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, Indonesia tetap membuka peluang untuk mengekspor listrik ke negara lain selama harga jual yang ditawarkan sesuai dengan perhitungan pemerintah.

Bahlil mengatakan, kerja sama ekspor listrik harus memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pemerintah tidak akan menyetujui ekspor apabila harga yang ditawarkan negara pembeli belum sesuai dengan harga yang telah diajukan Indonesia.

"Yang pertama, kita memperhatikan harus saling menguntungkan. Kalau harganya belum cocok, kita nggak bisa," ujar Bahlil saat ditemui di Istana Kepresidenan, Senin (2/11/2026).


Baca Juga: Bahlil Minta Produksi Nikel Dikendalikan, Ini Pertimbangannya

Ia menjelaskan, Kementerian ESDM telah melakukan perhitungan harga listrik untuk keperluan ekspor dan menyampaikannya melalui proposal kepada calon negara pembeli.

Karena itu, Bahlil meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) tidak terpengaruh oleh lobi-lobi pihak asing yang berupaya menekan harga jual listrik Indonesia.

Menurutnya, Danantara perlu tetap berpegang pada perhitungan harga yang telah disusun Kementerian ESDM. Pasalnya, kewenangan terkait penetapan kebijakan dan perizinan ekspor listrik berada di Kementerian ESDM.

"Saya minta untuk Danantara nggak boleh dilobi untuk mau mengikuti agar harga bisa turun, karena ESDM sudah membuat perhitungan harganya sesuai dengan apa yang sudah kita sampaikan proposalnya," tegas Bahlil.

Bahlil kembali menegaskan bahwa peluang ekspor listrik tetap terbuka apabila negara pembeli bersedia mengikuti harga yang ditawarkan Indonesia.

"Selama harganya cocok! Selama harganya cocok, ikuti harga kita, memungkinkan, dong," katanya.

Namun, apabila kesepakatan harga tidak tercapai, pemerintah akan mengutamakan pemenuhan kebutuhan listrik di dalam negeri. 

Baca Juga: Proyek CA-EDC Chandra Asri (TPIA) Capai 85%, Operasi Komersial di Semester II-2027

Menurut Bahlil, kebutuhan domestik harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum Indonesia menyalurkan listrik ke negara lain.

"Tetapi kalau harganya tidak cocok, kami akan memprioritaskan untuk kebutuhan di dalam negeri. Dan kita harus memenuhi dulu apa yang menjadi kebutuhan kita di domestik," pungkasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News