KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membuka peluang untuk mengevaluasi kontrak ekspor gas bumi dengan negara-negara yang dinilai tidak kooperatif dan tidak menghargai Indonesia. "Saya akan melakukan evaluasi kontrak dengan negara-negara lain yang tidak kooperatif, yang tidak saling menghargai antara hubungan sesama negara," ungkap Bahlil di sela Peresmian Penerimaan Gas JNE#6 dan Fasilitas Produksi Lapangan Maha di Balikpapan, dikutip Jumat (23/10/2026). Menurut Bahlil, perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia harus mengedepankan prinsip saling menguntungkan atau win-win bagi seluruh pihak.
"Setiap perusahaan luar negeri yang melakukan investasi di dalam negeri, itu artinya mereka adalah saudara kita. Aturan tetap kita pakai, win-win kita harus pakai. Kalian untung, perusahaan lokal untung, negara untung. Tidak boleh ada satu untung, satu yang rugi," ungkapnya. Bahlil bahkan membuka kemungkinan untuk menghentikan ekspor gas ke negara-negara yang dinilai tidak menghargai Indonesia. Ia menegaskan bahwa hubungan kerja sama antarnegara harus dilandasi prinsip kesetaraan dan saling menghormati.
Baca Juga: Bahlil Mau Setop Ekspor Gas, Kadin dan Industri Berharap Pasokan Makin Lancar "Ya, saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," lanjut Bahlil. Ia juga menyinggung sikap negara lain yang baru mendekati Indonesia ketika membutuhkan sesuatu, tetapi dinilai tidak menunjukkan penghargaan yang sama dalam menghadapi persoalan lainnya. "Jangan di saat mereka butuh baru mereka datang untuk memohon, tetapi di saat ada persoalan lain yang sesungguhnya itu mampu dibicarakan dengan baik-baik, seperti saudara yang tidak tahu adat aja. Ini yang kita tidak mau," tegas Bahlil. Sebaliknya, Bahlil menyatakan pemerintah bersedia membantu negara-negara yang menghargai Indonesia dan menjalin hubungan secara kooperatif, bahkan jika belum memiliki kontrak kerja sama sebelumnya. "Tapi kalau negara-negara yang menghargai Indonesia, yang kita saling menghargai, maka sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka. Itulah asas kesetaraan," sambung Bahlil. Saat ditanya mengenai negara yang dimaksud, Bahlil tidak menyebutkan negara tertentu. Ia menegaskan bahwa peringatan tersebut berlaku bagi negara mana pun yang dinilai tidak menghargai Indonesia.
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Tidak Ada Pemotongan Kuota Ekspor Gas KKKS pada Tahun 2026 "Ya negara mana aja," katanya singkat. Lebih lanjut, kata Bahlil pemerintah telah mempertimbangkan berbagai aspek sebelum mengambil keputusan, termasuk kemungkinan menghentikan ekspor gas ke negara lain. "Pemerintah dalam membuat keputusan, setiap langkah sudah memikirkan semuanya. Yang jelas bahwa kita menghargai semua hubungan dengan siapa saja, tapi juga asas penghargaan harus sama juga," tuturnya.
Bahlil juga menyatakan tidak khawatir jika negara-negara tersebut mengambil langkah serupa dengan menghentikan ekspor komoditas lainnya ke Indonesia. "Ya terserah mereka," tandasnya.
Baca Juga: Ekspor Listrik Bukan Hal Baru, DEN: Kita Sudah Lama Jual Gas Ke Singapura Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News