Bahlil Ungkap Impor Minyak dari Rusia Tahap Pertama Telah Dilakukan Melalui Lemigas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa Indonesia telah mulai merealisasikan impor minyak mentah (crude) dari Rusia. Impor minyak mentah tahap pertama dilakukan pemerintah melalui Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas).

"Sudah kita lakukan tahap pertama, dilakukan oleh pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan diperintahkan lewat Lemigas, karena kedaulatan bangsa tidak boleh diintervensi oleh negara lain, kita lagi butuh," kata Bahlil selepas agenda Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 pada Selasa (21/7/2026).

Bahlil menegaskan bahwa impor minyak mentah dari Rusia merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional, khususnya ketersediaan Bahan Bakar Minyak (BBM). Bahlil memastikan impor minyak mentah dari Rusia ini tidak melanggar aturan.


Baca Juga: PLN Siapkan Skema Kontrak Proyek PSEL, Jangka Waktu Jual-Beli Listrik 30 Tahun

"Pemerintah, dalam hal ini Menteri ESDM berkepentingan untuk menjaga stok cadangan daripada BBM kita. Saya nggak mau pusing mau ambil darimana, yang penting tidak melanggar aturan," tegas Bahlil.

Hanya saja, Bahlil tidak merinci mengenai volume impor minyak mentah tahap pertama maupun harga jual-beli yang disepakati dengan pihak Rusia. Bahlil mengklaim bahwa impor minyak mentah ini didapat dengan harga yang kompetitif. "Udah jangan tanya harga lah, yang jelas lebih baik," ujar Bahlil.

Sebelumnya beredar informasi bahwa minyak mentah asal Rusia telah memasuki Indonesia melalui Pelabuhan Lawe-Lawe di Kalimantan Timur. Kapal tanker berlabuh pada 29 Juni 2026 dengan mengangkut sebanyak 770.000 barel. 

Sekadar mengingatkan, impor minyak mentah dari Rusia merupakan tindak lanjut dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto pada April 2026 lalu. Bahlil menindaklanjuti melalui pertemuan dengan Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev pada 14 April 2026.

Pertemuan tersebut membahas peluang konkret kerja sama energi, terutama kepastian pasokan minyak mentah (crude) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Pihak Rusia menyatakan kesiapan untuk mendukung ketahanan energi Indonesia, melalui suplai migas serta penyimpanan (storage). Kerja sama ini dijajaki melalui skema antar pemerintah Government to Government (G2G) maupun Business-to-Business (B2B).

Pada sisi yang lain, pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026 tentang Pengadaan Minyak Bumi, BBM, dan/atau LPG untuk Ketahanan Energi Nasional. Beleid tersebut memungkinkan pemerintah membuka keran impor melalui Badan Layanan Umum (BLU) di bidang energi, yakni Lemigas.

Baca Juga: BGN soal Motor Listrik: Aset Negara Akan Dialihkan ke Kementerian yang Butuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News