Baht paling bersinar, rupiah paling redup di Asia



BANGKOK. Mata uang Thailand, baht, menjadi mata uang Asia yang paling bersinar pada pekan lalu. Mengutip data Bloomberg, pada periode pekan yang berakhir 6 Juni, baht terapresiasi sebesar 0,9% menjadi 32,558 per dollar AS. Ini merupakan penguatan mingguan terbesar sejak Februari lalu. Penguatan baht terkait dengan diambilalihnya pemerintahan Thailand oleh junta militer yang berjanji akan meningkatkan anggaran belanja untuk mengerek perekonomian. "Persepsi bahwa pemerintahan Thailand yang baru memberikan stabilitas dan memperbaiki kondisi pertumbuhan ekonomi Thailand. Selain itu program stimulus Bank Sentral Eropa (ECB) menjadi sentimen positif bagi mata uang yang memberikan yield tinggi seperti mata uang Asia," urai Dariusz Kowalczyk, strategist Credit Agricole CIB. Seperti yang diberitakan sebelumnya, ECB memutuskan untuk memangkas tingkat suku bunga deposito di bawah nol. Hal itu diumumkan oleh Presiden ECB Mario Draghi pada hari ini (5/6).Berdasarkan keterangan resmi ECB, bank sentral Eropa menurunkan tingkat suku bunga deposito menjadi minus 0,10% dari sebelumnya nol. Kebijakan ini menjadi kebijakan institusi dunia pertama di mana bank sentral utama global menerapkan suku bunga deposito negatif. Selain itu, ECB juga memangkas tingkat suku bunga acuan menjadi 0,15% dari sebelumnya 0,25%. Sementara itu, peso Filipina menguat 0,2% menjadi 43,65 dan ringgit Malaysia bergerak flat di level 3,2122. Sedangkan rupiah Indonesia mencatat pelemahan terbesar sebesar 1,4% menjadi 11.835. Rupiah mencatatkan penurunan mingguan untuk yang ketiga kalinya setelah data Badan Pusat Statistik menunjukkan peningkatan defisit neraca perdagangan pada April. Untuk diketahui, serangkaian data ekonomi Indonesia menunjukkan hasil yang negatif. Di antaranya, data neraca perdagangan bulan April 2014 yang defisit US$ 1,97 miliar. Rilis neraca perdagangan ini meleset dari perkiraan surplus sebesar US$ 0,22 miliar. Selain itu, pertumbuhan ekspor year on year (yoy) juga tercatat minus 3,16%. Angka ini di bawah ekspektasi sebesar 3,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Barratut Taqiyyah Rafie