KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia cenderung terbatas pada perdagangan Kamis (16/4/2026), namun baht Thailand dan dolar Taiwan mencatat penguatan terbesar terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Melansir
Reuters berdasarkan data pasar, baht Thailand menguat 0,39% ke level 31,895 per dolar AS.
Baca Juga: Ekonomi China Tumbuh 5% di Kuartal I-2026, Lampaui Ekspektasi Pasar Sementara itu, dolar Taiwan naik 0,36% ke posisi 31,537 per dolar AS, menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di kawasan pada sesi ini. Di sisi lain, pergerakan mata uang utama Asia lainnya relatif moderat. Yen Jepang menguat tipis 0,13% ke level 158,76 per dolar AS. Dolar Singapura naik 0,04%, sementara won Korea Selatan menguat 0,12%. Adapun peso Filipina tercatat menguat 0,06%, sedangkan yuan China naik tipis 0,01%. Rupee India dan ringgit Malaysia cenderung stagnan. Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, rupiah justru melemah tipis. Mata uang Indonesia ini turun 0,03% ke level 17.135 per dolar AS. Secara
year-to-date (YTD) atau sejak awal 2026, sebagian besar mata uang Asia masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS.
Baca Juga: Pembicaraan AS-Iran Penentu Nasib Harga Minyak Dunia Rupiah tercatat melemah sekitar 2,71% dibandingkan posisi akhir 2025. Pelemahan juga dialami rupee India (-3,75%), won Korea Selatan (-2,32%), serta peso Filipina (-1,98%). Sementara itu, beberapa mata uang justru mencatat penguatan sejak awal tahun, seperti ringgit Malaysia yang naik 2,68%, yuan China menguat 2,49%, serta dolar Singapura yang terapresiasi 1,20%. Pergerakan mata uang Asia ini terjadi di tengah sentimen global yang mulai membaik, seiring meningkatnya harapan pasar terhadap tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran, yang mendorong pelaku pasar mengurangi posisi di aset safe haven seperti dolar AS.