KONTAN.CO.ID - Pergerakan mayoritas mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung terbatas pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Di antara mata uang kawasan, baht Thailand mencatat pelemahan harian terbesar.
Baca Juga: Korps Garda Revolusi Iran Sebut Dua Tanker Terbakar di Selat Hormuz Mengutip data
Reuters hingga pukul 02.01 GMT, baht melemah 0,24% ke level 33,70 per dolar AS. Sementara itu, won Korea Selatan turun 0,14%, disusul dolar Taiwan yang melemah 0,11% dan peso Filipina yang turun 0,04%. Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS. Rupiah terapresiasi 0,06% ke level Rp 17.920 per dolar AS, sementara ringgit Malaysia naik 0,07%, yuan China menguat 0,05%, dan dolar Singapura bertambah 0,03%. Adapun yen Jepang bergerak relatif stabil dengan pelemahan tipis 0,01%, sedangkan rupee India tidak mengalami perubahan.
Baca Juga: Usai Skandal Audit, KPMG Australia Percayakan Kursi CEO kepada John Sams Kinerja sejak awal 2026 Secara
year-to-date (YTD), rupiah masih menjadi salah satu mata uang Asia dengan pelemahan terdalam terhadap dolar AS.
Sejak akhir 2025, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,98%, sedikit lebih besar dibandingkan pelemahan baht Thailand 6,68% dan rupee India 6,82%.
Baca Juga: Indeks Dolar Dekati Puncak Sepekan Selasa (21/7), Investor Pantau Perang AS-Iran Won Korea Selatan turun 2,73%, dolar Taiwan melemah 2,62%, peso Filipina kehilangan 4,66%, sementara dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing turun 0,40% dan 0,76%. Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, yuan China justru menguat sekitar 3,29% terhadap dolar AS sejak awal tahun 2026.