Baht Thailand Paling Lemah di Tengah Pergerakan Campuran Mata Uang Asia Jumat (10/4)



KONTAN.CO.ID - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (10/4/2026) cenderung bervariasi, dengan baht Thailand mencatat pelemahan terdalam di kawasan.

Melansir Reuters, nilai tukar baht berada di level 32,145 per dolar AS, melemah sekitar 0,48% dibandingkan hari sebelumnya, menjadi penurunan terbesar di antara mata uang Asia utama.

Baca Juga: Inflasi Grosir Jepang Melonjak pada Maret 2026, BOJ Waspadai Risiko Stagflasi


Di sisi lain, mata uang kawasan lainnya menunjukkan pergerakan yang lebih terbatas. Yen Jepang tercatat melemah tipis ke 159,08 per dolar AS, sementara dolar Singapura turun ke 1,273 per dolar AS.

Won Korea Selatan juga mengalami tekanan, melemah 0,32% ke level 1.479,4 per dolar AS, mencerminkan kehati-hatian investor di tengah ketidakpastian global.

Adapun rupiah Indonesia turut melemah tipis ke kisaran 17.088 per dolar AS, turun sekitar 0,05% dibandingkan posisi sebelumnya.

Sebaliknya, beberapa mata uang mencatat penguatan. Ringgit Malaysia naik sekitar 0,35% ke level 3,966 per dolar AS, sementara dolar Taiwan menguat tipis 0,01%.

Yuan China relatif stabil di level 6,832 per dolar AS, sedangkan peso Filipina melemah 0,11% ke 59,671 per dolar AS.

Baca Juga: Harga Pabrik China Berbalik Naik pada Maret, Dampak Perang Iran Picu Tekanan Inflasi

Secara year-to-date (YTD) 2026, mayoritas mata uang Asia masih berada dalam tekanan terhadap dolar AS.

Won Korea mencatat pelemahan terbesar sekitar 2,7%, diikuti rupiah Indonesia yang turun 2,45% dan baht Thailand melemah 2,16%.

Namun, beberapa mata uang justru menguat sepanjang tahun ini. Ringgit Malaysia naik sekitar 2,27%, sementara yuan China menguat 2,29% dibandingkan posisi akhir 2025.

Pergerakan mata uang kawasan masih dipengaruhi oleh dinamika global, terutama ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang berdampak luas terhadap aliran modal dan sentimen investor.