KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tim peneliti independen asal Amerika Serikat kembali mengguncang dunia arkeologi dan kepercayaan religius global dengan temuan terbaru mereka di situs Durupınar, sebuah formasi tanah berbentuk perahu raksasa yang terletak sekitar 29 kilometer di selatan Gunung Ararat, Turki. Situs ini secara tradisional diyakini sebagai lokasi terakhir Bahtera Nuh, sebagaimana tertulis dalam Kitab Kejadian dalam Alkitab. Penelitian yang dipimpin oleh Andrew Jones, anggota dari kelompok Noah's Ark Scans, menggunakan teknologi radar penembus tanah (ground-penetrating radar/GPR) untuk mengungkap struktur bawah tanah yang tidak biasa.
Struktur Bawah Tanah Menyerupai Kapal Tiga Lantai
Radar bawah tanah yang digunakan tim ini berhasil mendeteksi adanya rongga memanjang selebar sekitar 4 meter di bagian tengah formasi, yang mereka identifikasi sebagai jalur utama atau "terowongan tengah". Baca Juga: Ilmuwan Peringatkan Fenomena yang Dapat Membawa Manusia Kembali ke Zaman Kegelapan Lebih jauh, radar juga menunjukkan indikasi adanya tiga lapisan dek horizontal — yang secara mencolok mencerminkan deskripsi Bahtera Nuh dalam Kejadian 6:16: "Buatlah padanya tingkat bawah, tingkat kedua dan tingkat ketiga." Temuan ini diperkuat dengan dugaan adanya "lorong samping dan tengah", yang menurut tim dapat menunjukkan struktur internal yang disengaja, menyerupai kompartemen dalam sebuah kapal.Jejak Bahan Organik dan Anomali Kimiawi: Bukti Bahtera dari Sudut Ilmiah?
Meskipun belum ditemukan sisa kayu secara fisik, para peneliti melaporkan adanya "jejak kimiawi" yang mereka klaim sebagai residu dari bahan organik yang telah membusuk — mungkin kayu. Analisis tanah menunjukkan perbedaan signifikan antara sampel yang diambil dari dalam formasi dengan yang dari luar:- Kadar materi organik dua kali lipat lebih tinggi di dalam formasi.
- Kandungan kalium 40% lebih tinggi, elemen yang umumnya berkaitan dengan pelapukan kayu.
- Tingkat keasaman (pH) yang lebih rendah, mencerminkan proses dekomposisi biologis.