KONTAN.CO.ID - Raksasa teknologi asal China, Baidu, meluncurkan sistem kecerdasan buatan (AI) bernama Apollo World yang dirancang untuk menyimulasikan kondisi jalan raya di dunia nyata. Teknologi ini dikembangkan untuk melatih taksi otonom atau robotaxi sekaligus memprediksi perubahan lingkungan berkendara. Melansir
Reuters, peluncuran Apollo World pada Selasa (3/11/2026) berlangsung di tengah persaingan produsen otomotif dan perusahaan teknologi untuk menekan biaya pengembangan kendaraan otonom.
Baca Juga: Supermarket Eropa Diserang Hacker, Sistem Pendingin Rusak dan Makanan Membusuk Baidu menyebut, Apollo World mampu menghasilkan simulasi perjalanan hingga 100.000 kilometer (km) setiap hari. Kapasitas tersebut setara dengan sekitar tiga tahun pengujian kendaraan otonom di jalan raya menggunakan pengemudi keselamatan. Sistem ini juga dapat menghasilkan aliran data multimodal secara real-time, termasuk rekaman kamera dan data lidar. Dengan kemampuan tersebut, sistem kendaraan tanpa pengemudi dapat memproses informasi dan bernavigasi langsung di lingkungan simulasi. Baidu mengatakan Apollo World telah digunakan untuk melatih armada robotaxi Apollo Go yang akan dioperasikan secara global. Apollo Go, layanan robotaxi milik Baidu, merupakan operator terbesar di China dan bersaing dengan sejumlah pemain lain, seperti WeRide, Pony.ai, dan Momenta Global. Persaingan di pasar robotaxi China juga semakin ketat. Mitra Volkswagen di China, XPeng, berencana memulai operasional robotaxi pada 2027. Sementara itu, Morgan Stanley memperkirakan jumlah armada robotaxi di China berpotensi mencapai 1 juta kendaraan pada 2035.
Baca Juga: Binance Klaim Arus Penarikan Dana Normal Usai Peretasan Kripto US$ 6,3 Miliar Biaya Pengembangan Teknologi Masih Tinggi Meski perusahaan robotaxi China banyak mengandalkan strategi ekspansi dengan aset ringan (
asset-light), biaya pengembangan teknologi kendaraan otonom masih menjadi tantangan besar. Melalui strategi tersebut, perusahaan menyediakan teknologi mengemudi otonom dan menjalin kemitraan dengan produsen otomotif, platform transportasi daring, serta operator armada lokal di luar negeri. Model ini memungkinkan perusahaan berekspansi tanpa harus menanggung seluruh biaya kepemilikan dan operasional kendaraan. Namun, investasi untuk mengembangkan teknologi dan melatih model AI tetap membutuhkan belanja modal besar. Frank McCleary, pakar mobilitas otonom dan transportasi perkotaan dari konsultan manajemen Arthur D. Little, mengatakan perusahaan tetap harus menanggung biaya pengembangan model dan kendaraan. Menurut dia, tantangan tersebut dihadapi seluruh perusahaan yang mengembangkan kendaraan otonom.
Baca Juga: Orang Terkaya Di Dunia Sebut Menabung Sudah Tak Cocok Di Era AI Kecepatan perusahaan memasuki pasar baru, lanjut McCleary, sangat bergantung pada kemampuan teknologi untuk beradaptasi, memahami, dan mempelajari karakteristik lingkungan berkendara di wilayah tersebut. Ia menilai perkembangan AI telah mempercepat kemajuan teknologi mengemudi otonom. Di sisi lain, Tesla juga mengembangkan teknologi kendaraan tanpa pengemudi dengan pendekatan
end-to-end neural network. Perusahaan milik Elon Musk tersebut melatih sistemnya menggunakan rekaman video pengemudi manusia untuk mengembangkan teknologi mengemudi otonom, seiring rencana memperluas armada robotaxi Cybercab.