Bain & Co: Sektor Teknologi dan AI Jadi Buruan Private Equity di Asia Tenggara



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Sektor teknologi masih menjadi sektor yang memiliki daya tarik tinggi bagi private equity (PE). Ini terlihat dari Southeast Asia Private Equity Report 2026 yang dipublikasikan Bain & Company, Jumat (24/4/2026).

Menurut temuan Bain & Co, sektor infrastruktur digital dan sektor yang terkait AI, termasuk pusat data dan teknologi pendukung, masih menarik minat yang kuat dari investor.

Selain itu, sektor kesehatan tetap menjadi fokus utama, dengan nilai transaksi meningkat sekitar 60% selama lima tahun terakhir, didorong oleh pembangunan platform dan konsolidasi.


Baca Juga: Investor PE Wajib Tahu: Pasar Asia Tenggara Lesu di 2025!

Sementara sektor manufaktur dan industri diuntungkan dari pergeseran rantai pasokan China, khususnya di Vietnam dan Indonesia. Di sektor jasa keuangan, fintech tetap menjadi area fokus, sementara investasi konsumen berkembang menuju penawaran yang terlokalisasi, berorientasi nilai, dan terdiferensiasi.

Bain & Co juga mencatat, Singapura masih menjadi jangkar transaksi PE di regional. Negara kota ini menyumbang pangsa terbesar aktivitas kesepakatan di Asia Tenggara, dengan nilai mencapai US$ 7 miliar.

Sementara Malaysia mencatat peningkatan nilai transaksi tahunan terkuat, mencapai US$ 5,3 miliar.

Baca Juga: Negosiasi Buntu, Prospek Perdamaian Konflik AS-Israel vs Iran Kian Memudar

Aktivitas divestasi di Asia Tenggara masih tetap lesu. Jumlah divestasi di Singapura tetap stabil di angka empat dan Vietnam mencatat nol divestasi, mencerminkan kesulitan berkelanjutan dalam mewujudkan likuiditas di kondisi saat ini.

Survei Bain terhadap investor ekuitas swasta di seluruh Asia-Pasifik menunjukkan kehati-hatian yang berkelanjutan di Asia Tenggara. Investor menyebut tantangan divestasi sebagai kekhawatiran utama, di samping tekanan penggalangan dana dan terbatasnya arus transaksi berkualitas tinggi.

Banyak investor yang memperkirakan pengembalian akan lebih bergantung pada pertumbuhan pendapatan dan peningkatan operasional, dengan kontribusi yang lebih sedikit dari leverage.

Baca Juga: Pelaku Penembakan di White House Dinner yang Dihadiri Trump Terungkap, Ini Sosoknya

Tren di Asia-Pasifik, yang merupakan pasar yang lebih luas, memperkuat pandangan ini. Aktivitas divestasi membaik dan mulai memulihkan likuiditas, tetapi penggalangan dana tetap berada di bawah tekanan dan ketidakpastian makro masih berlanjut.

“Karena jangka waktu divestasi semakin panjang, PE fund perlu bekerja lebih keras untuk menghasilkan pengembalian yang menarik,” kata Suvir Varma, Advisory Partner Global Private Equity Bain & Company.