KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja nasional menghadapi tekanan perdagangan global yang semakin berat. Selain persoalan kelebihan kapasitas produksi dunia, produk baja Indonesia harus menghadapi berbagai instrumen perdagangan baru, mulai dari pembatasan tarif, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) hingga aturan asal-usul produksi seperti melt and pour. Ketua Tim Kerja Sama Internasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian Willy Fandri mengatakan, tekanan terhadap industri baja nasional saat ini meningkat signifikan. Salah satu pemicunya adalah excess capacity di pasar global yang mendorong negara produsen mencari pasar baru. "Excess capacity itu kenapa? Karena dari Eropa dan beberapa negara lain itu menutup akses. Karena China sudah berhenti, terjadi excess capacity," ujar Willy dalam diskusi Green Steel for Growth Convening 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Baja RI Menghadapi Tiga Lapis Hambatan Dagang Global, Ini Rinciannya
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Industri baja nasional menghadapi tekanan perdagangan global yang semakin berat. Selain persoalan kelebihan kapasitas produksi dunia, produk baja Indonesia harus menghadapi berbagai instrumen perdagangan baru, mulai dari pembatasan tarif, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) hingga aturan asal-usul produksi seperti melt and pour. Ketua Tim Kerja Sama Internasional dan Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN) Kementerian Perindustrian Willy Fandri mengatakan, tekanan terhadap industri baja nasional saat ini meningkat signifikan. Salah satu pemicunya adalah excess capacity di pasar global yang mendorong negara produsen mencari pasar baru. "Excess capacity itu kenapa? Karena dari Eropa dan beberapa negara lain itu menutup akses. Karena China sudah berhenti, terjadi excess capacity," ujar Willy dalam diskusi Green Steel for Growth Convening 2026 di Jakarta, Rabu (19/8/2026).