KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan bisnis kartu kredit pada semester I-2024, dengan baki debet kartu kredit BNI tumbuh sekitar 9,9% yoy mencapai Rp 14,4 triliun. Nilai transaksi kartu tumbuh sekitar 6% yoy. GM Divisi Bisnis Kartu BNI Grace Situmeang mengatakan, kehadiran bisnis paylater saat ini tidak berpengaruh signifikan kepada bisnis kartu kredit, mengingat kartu kredit dan paylayer memiliki segmen pasar yang berbeda. "Namun, guna menghadapi maraknya paylater saat ini BNI kartu kredit telah mengantisipasi sesuai dengan arah digitalisasi Kartu Kredit. Digitalisasi kartu kredit akan meningkatkan kemudahan dan kenyamanan dari nasabah mulai dari pengajuan, pemrosesan, penerbitan, pengelolaan dan pembelanjaan dengan Kartu Kredit," jelasnya kepada kontan.co.id, Rabu (28/8).
Baca Juga: Hingga Juli 2024, Jumlah Kartu Kredit Danamon Naik Lebih dari 30% Ia juga berharap, kartu kredit dan paylater akan dapat berjalan bersama-sama sebagai payment solution bagi transaksi nasabah, dengan benefit yang terdapat pada masing-masing produk. Sejalan dengan itu, rasio kredit bermasalah (NPL) kartu kredit BNI masih terkendali, dan berada di bawah rata-rata NPL Industri. Meski begitu, Grace mengakui potensi peningkatan risiko di industri kartu kredit tidak dapat dihindari seiring dengan peningkatan ekspansi portofolio kartu kredit. Hingga Juni 2024 NPL Kartu Kredit BNI berada di level 1,8%, meningkat dari periode sama tahun sebelumnya yang berada di level 1,7%. BNI menargetkan NPL kartu kredit terjaga di bawah 2%, dengan tetap berpegang pada prinsip kehati-hatian dalam pemberian kartu kredit untuk selected customer. Grace memproyeksikan, tren transaksi kartu kredit pada tahun 2024 terus tumbuh. Dengan transaksi Travel Related, E-Commerce serta Dining masih mendominasi transaksi kartu kredit. Nilai transaksi BNI kartu kredit sampai dengan akhir tahun 2024 diharapkan dapat tumbuh di atas 10%.