JAKARTA. Rupanya, para karyawan PT Balai Pustaka (Persero) juga ingin memperpanjang umur bisnis perusahaan penerbit bersejarah ini. Karenanya, mereka minta Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendesak Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menggelontorkan dana segar agar BUMN tersebut. Ketua Umum Serikat Pekerja Balai Pustaka Rafita menghitung, Balai Pustaka membutuhkan dana suntikan Rp 150 miliar. "Dana itu akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, membenahi SDM dan sebagai tambahan modal untuk menerbitkan buku," katanya seusai menghadiri rapat dengan Komisi VI DPR RI, kemarin (02/02). Rafita mengaku, kini, Balai Pustaka banyak mendapat pesanan buku tapi tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ada modal untuk mencetaknya. "Kami ingin seperti swasta yang didukung oleh penyandang dananya sehingga bisa kompetitif," lanjut Rafita.
Balai Pustaka Butuh Suntikan Rp 150 Miliar
JAKARTA. Rupanya, para karyawan PT Balai Pustaka (Persero) juga ingin memperpanjang umur bisnis perusahaan penerbit bersejarah ini. Karenanya, mereka minta Kementrian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendesak Perusahaan Pengelola Aset (PPA) menggelontorkan dana segar agar BUMN tersebut. Ketua Umum Serikat Pekerja Balai Pustaka Rafita menghitung, Balai Pustaka membutuhkan dana suntikan Rp 150 miliar. "Dana itu akan digunakan untuk memperbaiki infrastruktur, membenahi SDM dan sebagai tambahan modal untuk menerbitkan buku," katanya seusai menghadiri rapat dengan Komisi VI DPR RI, kemarin (02/02). Rafita mengaku, kini, Balai Pustaka banyak mendapat pesanan buku tapi tidak dapat berbuat apa-apa karena tidak ada modal untuk mencetaknya. "Kami ingin seperti swasta yang didukung oleh penyandang dananya sehingga bisa kompetitif," lanjut Rafita.