Balas Ancaman Trump, Uni Eropa Kaji Tarif Bagi Barang Asal AS Senilai € 93 miliar



KONTAN.CO.ID - BRUSSELS. Uni Eropa (UE) sedang mengkaji potensi mengenakan tarif pada barang-barang impor asal Amerika Serikat (AS) senilai € 93 miliar, setara sekitar Rp 1.822,71 triliun. Tarif diberlakukan jika Presiden AS Donald Trump menerapkan ancamannya mengenakan bea masuk 10% kepada negara-negara Eropa pada 1 Februari.

Trump pada Sabtu (17/1/2026) mengumumkan tarif 10% untuk barang-barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari. Tarif tersebut akan naik lagi menjadi 25% pada Juni mendatang, kecuali ada kesepakatan untuk pembelian Greenland.

Tarif Trump akan berlaku untuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Jika Trump benar-benar menerapkan ancaman tarif 25%, hal itu dapat memangkas ekspor AS dari negara-negara yang menjadi sasaran hingga 50%, dengan Jerman, Swedia, dan Denmark yang paling rentan.


Baca Juga: Trump Tegaskan Akan Singkirkan Ancaman Rusia dari Greenland

Uni Eropa telah menyetujui tarif balasan atas produk asal AS senilai €93 miliar, tetapi implementasinya masih belum dipastikan. Jika Trump melanjutkan ancamannya dan mengenakan bea masuk pada negara-negara tersebut pada awal Februari, Uni Eropa dapat mengizinkan tindakan balasan tersebut diberlakukan kembali.

Langkah-langkah tersebut akan menargetkan barang-barang industri Amerika termasuk pesawat Boeing Co., mobil buatan AS, dan bourbon. Bloomberg memberitakan, mengutip sumber yang memahami kabar tersebut, UE juga mempertimbangkan tindakan balasan tambahan di luar tarif. Tetapi otoritas benua biru ini pertama-tama akan mencoba menemukan solusi diplomatik.

Presiden Dewan Eropa Antonio Costa mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial, Minggu (18/1/2026) waktu setempat, negara-negara blok tersebut bersatu dalam mendukung Denmark dan Greenland. Eropa juga siap untuk membela diri terhadap segala bentuk pemaksaan.

Baca Juga: AS dan Uni Eropa Sepakati Tarif 15% untuk Cegah Perang Dagang

Trump melontarkan ancaman tarif setelah negara-negara di Eropa mengatakan akan melakukan latihan perencanaan militer NATO sebagai simbolis di wilayah semi-otonom Denmark.

Pernyataan Trump tersebut langsung memantik respons keras dari para pejabat Eropa. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengecam komentar Trump dan menyebut Trump sama sekali salah.

Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan, negaranya tidak akan diperas. Sementara Perdana Menteri Prancis Emmanuel Macron menyebut ancaman Trump tidak dapat diterima. Macron berencana meminta Uni Eropa mengaktifkan alat pembalasan perdagangan terkuat, yang disebut instrumen anti-koersi.

Baca Juga: Bitcoin Anjlok ke Bawah 92.000 Gara-Gara Trump, Lihat Proyeksi Support Berikutnya

Bila instrumen anti-koersi atawa anti-coercion instrument (ACI) ini digunakan, maka ini akan menandai eskalasi besar-besaran oleh Uni Eropa. ACI selama ini belum pernah digunakan.

ACI dirancang terutama sebagai pencegah, dan jika diperlukan, untuk menanggapi tindakan koersif yang disengaja dari negara ketiga yang menggunakan langkah-langkah perdagangan sebagai sarana untuk menekan pilihan kebijakan Uni Eropa atau anggotanya.

Langkah-langkah tersebut dapat mencakup tarif, pajak baru pada perusahaan teknologi, atau pembatasan investasi yang ditargetkan di Uni Eropa. Selain itu juga dapat mencakup pembatasan akses ke bagian-bagian tertentu dari pasar Uni Eropa atau membatasi perusahaan untuk mengajukan penawaran untuk kontrak publik di Eropa.

Baca Juga: Eropa Bersatu Soal Greenland: Strategi 8 Negara Lawan Tarif 10% Donald Trump

“Komisi harus segera mengaktifkan anti-coercion instrument dan dewan harus mengizinkan penerapan tarif yang sesuai pada impor AS,” kata Ignacio Garcia Bercero, mantan pejabat senior Komisi Eropa yang bertanggung jawab atas pembicaraan perdagangan dengan AS.

Reaksi paling langsung dan nyata dari Uni Eropa adalah, kawasan ini akan menghentikan persetujuan kesepakatan perdagangan dengan AS yang dicapai Juli tahun lalu. Kesepakatan perdagangan ini masih membutuhkan dukungan dari Parlemen Eropa.

People’s Party Eropa, partai terbesar di parlemen, mengatakan akan bergabung dengan partai-partai lain dalam memblokir ratifikasi kesepakatan tersebut. "Presiden Trump telah mengancam menghancurkan kerjasama transatlantik selama beberapa dekade," kata Stefan Lofven, presiden Partai Sosialis Eropa.

Baca Juga: Harga Emas dan Perak Cetak Rekor Senin (19/1), Trump Ancam Tarif Eropa soal Greenland

Perjanjian perdagangan dengan AS sejatinya memang banyak dikritik di Eropa. Sebab hal-hal yang disepakati dianggap lebih menguntungkan AS dibanding Uni Eropa.

Misalnya, Uni Eropa setuju menghapus hampir semua tarif bagi produk-produk Amerika. Uni Eropa juga menerima bea masuk 15% untuk sebagian besar ekspor ke AS dan 50% untuk baja dan aluminium.

AS sejak itu telah memperluas daftar barang yang termasuk dalam tarif 50% yang lebih tinggi, untuk memasukkan ratusan produk tambahan yang mengandung logam tersebut.

Selanjutnya: Pembangkit Listrik Batubara China Anjlok Pertama Kali dalam 10 Tahun, EBT Melaju

Menarik Dibaca: Ancaman Kebocoran Data Instagram, Waspada Email Reset Password Palsu