KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat terus menunjukkan eskalasi tanpa tanda-tanda mereda. Situasi di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran menegaskan bahwa kematian sejumlah pejabat tinggi, termasuk kepala keamanan Ali Larijani, tidak akan melemahkan operasional negara tersebut. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan bahwa sistem politik Republik Islam Iran tidak bergantung pada satu individu. Ia menegaskan bahwa pemerintahan tetap berjalan normal meskipun kehilangan sejumlah tokoh penting. Pernyataan tersebut disampaikan dalam wawancara yang disiarkan media pemerintah Iran pada Rabu.
Serangan Balasan Iran ke Tel Aviv
Sebagai respons atas pembunuhan Larijani oleh Israel, Iran meluncurkan serangan rudal ke Tel Aviv. Media pemerintah Iran melaporkan bahwa rudal yang digunakan membawa hulu ledak cluster, yang mampu menyebar menjadi beberapa bom kecil di udara sehingga sulit dicegat.
Baca Juga: 85 Negara Alami Kenaikan Harga BBM Imbas Pecahnya Perang Iran Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyebutkan bahwa serangan tersebut menggunakan rudal Khorramshahr-4 dan Qadr, yang masing-masing memiliki kemampuan membawa banyak hulu ledak. Pihak Israel melaporkan dua korban jiwa akibat serangan tersebut di kawasan dekat Tel Aviv, sehingga total korban tewas di Israel sejak konflik dimulai mencapai sedikitnya 14 orang.
Israel Tingkatkan Serangan di Lebanon
Di sisi lain, Israel memperluas operasi militernya ke Lebanon dengan menargetkan kelompok Hezbollah yang didukung Iran. Serangan udara di Beirut dilaporkan menewaskan sedikitnya enam orang, sementara wilayah selatan ibu kota yang dikuasai Hezbollah juga dihantam intensif. Konflik di Lebanon semakin memburuk sejak Hezbollah melancarkan serangan ke Israel pada 2 Maret sebagai bentuk balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran. Sejak saat itu, lebih dari 900 orang dilaporkan tewas di Lebanon dan sekitar 800.000 warga mengungsi akibat serangan Israel.
Penolakan Iran terhadap Gencatan Senjata
Pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, dilaporkan menolak proposal de-eskalasi atau gencatan senjata dengan Amerika Serikat. Ia menyatakan bahwa perdamaian bukanlah pilihan hingga Amerika Serikat dan Israel “mengakui kekalahan dan membayar kompensasi.”
Baca Juga: Harga Minyak Melemah Rabu (18/3), Kesepakatan Irak-Kurdi Redakan Kekhawatiran Pasokan Sementara itu, Iran juga mengeksekusi seorang pria bernama Kurosh Keyvani yang dinyatakan bersalah sebagai mata-mata Israel. Ia dituduh memberikan informasi sensitif kepada badan intelijen Mossad.
Serangan AS dan Ancaman di Selat Hormuz
Militer Amerika Serikat mengonfirmasi telah menargetkan lokasi di pesisir Iran dekat Selat Hormuz menggunakan bom penghancur bunker. Serangan ini dilakukan karena ancaman rudal anti-kapal Iran terhadap jalur pelayaran internasional. Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi sekitar 20% perdagangan minyak dunia, kini sebagian besar ditutup akibat ancaman Iran terhadap kapal tanker yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak global. Presiden AS Donald Trump juga mengkritik sekutu NATO yang menolak terlibat dalam konflik tersebut, menyebut sikap mereka sebagai “kesalahan besar.”
Dampak Kemanusiaan dan Ekonomi Global
Konflik ini telah menimbulkan dampak besar secara regional dan global. Kelompok pemantau HAM Iran melaporkan lebih dari 3.000 orang tewas di Iran sejak serangan dimulai pada akhir Februari. Selain itu, serangan Iran juga menyebabkan korban di Irak dan negara-negara Teluk. Lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone dilaporkan menargetkan fasilitas AS dan infrastruktur vital di kawasan Teluk, termasuk Uni Emirat Arab.
Baca Juga: Irak dan Otoritas Kurdi Sepakat Lanjutkan Ekspor Minyak ke Pelabuhan Ceyhan Turki Badan Energi Internasional menyebut konflik ini sebagai krisis minyak terburuk sejak 1970-an. Harga minyak dunia melonjak sekitar 45% sejak perang dimulai pada 28 Februari, memicu kekhawatiran akan lonjakan inflasi global. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa puluhan juta orang berisiko menghadapi kelaparan akut jika konflik berlanjut hingga pertengahan tahun. Industri penerbangan global juga terdampak, dengan kenaikan biaya bahan bakar jet yang signifikan, pembatalan penerbangan, serta penutupan sebagian besar wilayah udara Timur Tengah.
Upaya Diplomasi Regional
Arab Saudi dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan para menteri luar negeri dari sejumlah negara Arab dan Islam di Riyadh. Pertemuan ini bertujuan membahas langkah-langkah untuk menjaga stabilitas dan keamanan kawasan. Meski berbagai upaya diplomasi terus dilakukan, hingga kini belum terlihat tanda-tanda penurunan eskalasi konflik yang berpotensi semakin meluas dan berdampak pada stabilitas global.