Bali Jadi Tuan Rumah Keamanan Siber Internasional C2C-CTF 2026, Berhadiah US$ 4.000



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menjadi tuan rumah kompetisi keamanan siber internasional Country-to-Country Capture The Flag (C2C-CTF) 2026 di Pulau Bali. Ajang bergengsi ke-7 ini diikuti berbagai perguruan tinggi ternama dunia seperti University of Cambridge, Keio University, hingga Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung. 

Di babak final, talenta muda Indonesia mengukir prestasi dengan bergabung dalam tim lintas kebangsaan yang menyabet juara pertama dan berhasil kantongi hadiah sebesar US$ 4.000 atau sekitar Rp 72 juta.

Gubernur Bali I Wayan Koster menilai, kehadiran acara ini penting untuk mengukur kedalaman kompetensi generasi muda nasional di tingkat global. Menurutnya, pengalaman berinteraksi langsung dengan para ahli Internasional akan mengakselerasi kesiapan SDM dalam menghadapi era transformasi digital.


Baca Juga: Pasar Keamanan Siber Indonesia Diproyeksi Tembus US$ 6,7 Miliar pada 2034

"Kehadiran kompetisi internasional semacam ini penting bukan hanya karena membawa nama Indonesia dalam peta perkembangan teknologi dunia, tetapi juga membuka ruang bagi talenta Indonesia untuk bertemu, belajar, sekaligus mengukur kemampuan secara langsung dengan talenta dari berbagai negara," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (21/8/2026).

Managing Director Spentera Group Royke L. Tobing menyampaikan, keberhasilan talenta lokal menembus babak final hingga menjadi pemenang membuktikan kualitas sumber daya manusia Indonesia di bidang keamanan digital.

“Ini bukan kompetisi yang mudah. Untuk sampai ke final saja mereka harus melewati ratusan peserta, kemudian di babak akhir harus bekerja bersama orang-orang dari negara, bahasa, universitas, dan keahlian yang berbeda. Ketika ada talenta Indonesia berada di dalam tim juara, ini menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak kita bisa bersaing di level dunia,” katanya.

Baca Juga: Antisipasi Serangan Siber, Elitery dan BSSN Gelar Roadshow Penguatan Keamanan Siber

Royke menuturkan, dinamika ancaman digital saat ini bergerak tanpa batas teritorial sehingga dibutuhkan kemampuan respons cepat serta ekosistem latihan yang menyerupai kondisi riil.

“Serangan siber bisa datang dari mana saja dan dampaknya juga bisa melintasi negara. Karena itu, orang yang akan berada di garis depan keamanan digital tidak cukup hanya hebat secara teknis. Mereka harus bisa bekerja dengan siapa saja, memahami masalah dengan cepat, lalu mengambil keputusan yang tepat. Kompetisi ini menguji semua itu sekaligus,” katanya.

Untuk diketahui, kompetisi tersebut sebelumnya pernah berlangsung di sejumlah universitas dunia, di antaranya Royal Holloway University of London, Massachusetts Institute of Technology (MIT), Keio University Jepang, Edith Cowan University Australia, serta Northeastern University di Boston.

Hadiah yang diperebutkan cukup jumbo, juara pertama memperoleh US$ 4.000 atau Rp 72 juta, juara kedua US$ 2.500 atau Rp 45 juta, sedangkan juara ketiga menerima US$ 1.500 atau Rp 27 juta.

Baca Juga: VIDA Dorong Sistem Keamanan Berlapis untuk Tahan Serangan Siber di Era Fintech

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

TAG: