Bali Kembali Berdenyut, Hotel Sheraton, Yello dan Aloft Raih Okupansi 80%-90%



KONTAN.CO.ID -DENPASAR. Bali kini mulai berdenyut setelah di hantam dampak pandemi Covid-19. Selama hampir 2 tahun lebih banyak perhotelan mendiskon harga kamar hingga lebih dari 50%. Hal ini dilakukan untuk bisa tetap bertahan dan menggaji karyawan.

Praktis saat itu industri pariwisata Bali mati, demikian pula kawasan pantai Kuta sebagai jantung mobilitas wisatawan asing dan wisatawan domestik ikut mati. Namun, sejak akhir 2021 yang ditandai dengan pelonggaran PPKM termasuk kunjungan wisatawan asing di Bali berangsur membaik.

Saat ini ada sekitar 7.000-8.000 wisatawan yang datang ke Bali. Maskapai penerbangan mulai sering untuk melakukan perjalanan ke Bali, baik dari Eropa maupun domestik untuk tujuan Bali. Inilah yang kemudian membuat Hotel Sheraton yang merupakan bagian dari Paradise Group, yang terletak di depan Pantai Kuta kembali menerima tingginya kunjungan tamu.


KONTAN.co,id memotret aktivitas kuta pada pagi siang damn malam hari di kawasan pantai Kuta. Untuk menuju kawasan Kuta harus melalui kemacetan yang panjang. Mayoritas wisatawan menuju pantai, ada pula yang memang menginap di seberang pantai. Sheraton adalah satu dari beberapa hotel yang ada di depan pantai Kuta.

Bukan saja Hotel Sheraton dan juga Yello dan Alove yang ramai pengunjung. Mal Beachwalk juga ramai pengunjung, baik turis mancanegara dan lokal slelau mampir ke Beachwalk demi melepas penat. Lokasi yang strategis menjadi kunci hidupnya kawasan dan hotel di Paradise Group tersebut.

Deputy Chief Operating Officer PT Indonesian Paradise Property Tbk Elvan Prawira mengatakan, Bali menjadi daerah pertama yang terkena dampak pandemi covid-19 sekaligus pulau yang terakhir berdenyut. Tak ayal pertumbuhan ekonomi Bali menjadi terendah dari Provinsi lain di Indonesia.

Namun demikian, dengan adanya kebijakan membebaskan visa bagi turis mancanegara pada 1 April 2022 menjadi momentum kebangkitan industri pariwisata di Bali. Apalagi, ketika penerbangan tidak lagi mewajibkan adanya tes antigen. "Puncaknya di Mei 2022 sebelum lebaran. Hotel-hotel kami bisa membalikan menjadi positif dari yang awalnya negatif," kata dia.

Saat ini Paradise Group khusus di Bali mengelola Hotel Sheraton, Hotel Yello, Hotel Aloft, mall Beachwalk dan residensial. Meskipun memang, kata Elvan, kondisi okupansi hotel saat ini belum terbilang normal. "Kami berharap ini terus meningkat," ungkap dia.

Banyak yang beranggapan bahwa kenaikan jumlah turis hanya berlangsung singkat di Bali, tetapi kenyataannya setelah lebaran kenaikan pengunjung di hotel tidak kunjung turun, malah jumlahnya terus meningkat ditambah lagi adanya momentum liburan sekolah anak. "Australia juga ada school holiday, jadi jumlah tamu terus naik," terang Elvan.

Selain terus meningkatkan pelayanan agar tamu terus berkunjung, Elvan mengatakan pihaknya juga terus untuk melakukan kenaikan harga kamar. Salah satunya adalah bagaimana bisa mengembalikan kamar hotel ke kondisi normal. "Kami sedang berusaha membentuk mindset di masyarakat dan mengajak semua pihak, bahwa liburan ke Bali bukan karena diskon atau murah," terang dia.

Sebab, selama dua tahun banyak pengusaha hotel di Bali menurunkan harga sewa kamar demi mendapatkan tamu. Padahal dengan promo jor-joran tersebut bisa membentuk mindset yang salah soal Bali. Apalagi tidak menutup kemungkinan jika diskon terus dipertahankan maka akan terjadi perang harga sesama hotel di Bali.

Dampaknya, jika terjadi perang diskon maka akan mematikan semua bisnis hotel di Bali. "Hotel-hotel kami dari bulan lalu sudah mendapat okupansi 80%-90% dan bertahan sampai saat ini, kami bersyukur Bali kembali hidup terutama di Kuta," ujar Elvan.

Ia menjelaskan, saat ini tantangan dari hotel di bawah Paradise Group ini memang belum memasang harga normal. "Masih 20%-30% dari harga normal, tetapi perlahan sudah mulai kami naikan, terbukti tetap ramai," ujar dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Azis Husaini