Bandara Nusantara IKN Berpeluang Jadi Embarkasi Haji dan Umrah



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bandara Nusantara di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, berpotensi memiliki fungsi yang lebih luas ke depan. Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) tengah mendorong agar bandara tersebut dapat dimanfaatkan sebagai embarkasi haji dan umrah bagi masyarakat di Kalimantan serta wilayah Sulawesi di sekitarnya.

Rencana tersebut telah dibahas OIKN dengan Kementerian Haji dan Umrah. Kepala OIKN Basuki Hadimuljono mengatakan, Bandara Nusantara memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai embarkasi karena basis calon jemaah dari sejumlah wilayah dinilai memadai.

Wilayah yang berpotensi menjadi basis jemaah antara lain Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, hingga sejumlah daerah di Sulawesi.


"Saya sudah berkomunikasi dengan Menteri Haji, kalau bisa dipakai untuk embarkasi umrah dan haji," kata Basuki di kantor OIKN, Kalimantan Timur, Jumat (14/8/2026).

Menurut Basuki, jumlah calon jemaah menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan fasilitas embarkasi. Ia menyebut kebutuhan minimal untuk membentuk embarkasi haji berada di kisaran 400 jemaah.

Baca Juga: OIKN Siapkan Insentif Pajak untuk Tarik Investasi ke IKN

"Karena hanya butuh 400 jemaah kalau mau jadi embarkasi haji. Jadi kalau Kaltara, Kaltim, Kalsel pasti sudah lebih, belum nanti Sulawesi yang dekat-dekat sini," ujarnya.

Status Bandara Nusantara

Meski memiliki potensi sebagai embarkasi haji dan umrah, pemanfaatan Bandara Nusantara untuk penerbangan komersial masih menunggu perubahan status bandara.

Saat ini, Bandara Nusantara berstatus sebagai Bandar Udara Khusus. Status tersebut membuat penggunaannya masih terbatas untuk jenis penerbangan tertentu, seperti penerbangan kenegaraan, pesawat instansi pemerintah, serta penerbangan charter dan private flight.

Basuki mengatakan, OIKN masih menunggu penerbitan peraturan presiden (Perpres) yang diperlukan untuk mengubah status Bandara Nusantara menjadi bandara komersial.

Perubahan status tersebut menjadi salah satu tahapan penting agar bandara dapat melayani penerbangan penumpang secara lebih luas, termasuk membuka peluang penerbangan haji dan umrah.

"Untuk itu tinggal kita menunggu Perpres untuk mengubah bandara khusus menjadi bandara komersial," kata Basuki.

Bandara Nusantara merupakan salah satu proyek strategis untuk mendukung konektivitas IKN. Pembangunannya memiliki nilai investasi sekitar Rp4,3 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Baca Juga: IKN Makin Dilirik Investor, Komitmen Swasta Tembus Rp74,54 Triliun

Bandara ini memiliki landasan pacu atau runway sepanjang 3.000 meter dengan lebar 45 meter. Spesifikasi tersebut memungkinkan Bandara Nusantara melayani pesawat berbadan lebar, termasuk Boeing 777-300ER dan Airbus A380 dalam kondisi tertentu.

Di sisi udara, bandara memiliki apron yang dapat menampung tiga pesawat berbadan lebar secara bersamaan. Sementara itu, terminal penumpangnya memiliki luas sekitar 7.350 meter persegi.

Bandara Nusantara juga telah terdaftar di International Civil Aviation Organization (ICAO) dengan kode WALK. Namun, selama masih berstatus Bandar Udara Khusus, operasional bandara belum dibuka untuk penerbangan komersial secara umum.

Karena itu, perubahan status menjadi Bandara Umum akan menjadi faktor penting dalam menentukan pengembangan fungsi Bandara Nusantara, termasuk kemungkinan menjadikannya embarkasi haji dan umrah.

Lion Group Siapkan Fasilitas MRO

Selain membuka peluang sebagai embarkasi haji dan umrah, Bandara Nusantara juga mulai menarik perhatian pelaku industri penerbangan.

Lion Group berencana membangun pusat pelatihan sekaligus fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO) di sekitar Bandara Nusantara. Rencana tersebut membutuhkan lahan sekitar 30 hektare.

Baca Juga: Rosan Ungkap PFII Sudah Temui 110 Investor, Bagaimana Responsnya?

Basuki mengatakan, rencana investasi Lion Group turut mempertimbangkan karakteristik landasan pacu dan prospek pengembangan Bandara Nusantara yang dinilai mampu mendukung operasional pesawat berbadan lebar.

"Lion Group melihat bandara ini sangat prospek karena panjangnya sekitar 3 kilometer dan lebarnya 45 meter, sehingga bisa untuk pesawat berbadan lebar. Mereka ingin membangun MRO sekitar 30 hektare," jelasnya.

Menurut Basuki, perubahan status menjadi bandara komersial nantinya akan memperluas fungsi Bandara Nusantara. Selain menjadi bagian dari konektivitas IKN, bandara tersebut berpotensi melayani kebutuhan penerbangan haji dan umrah bagi masyarakat di Kalimantan dan wilayah sekitarnya.

Dengan dukungan jumlah calon jemaah dari Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, serta sejumlah wilayah Sulawesi, OIKN melihat Bandara Nusantara memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu titik keberangkatan jemaah haji dan umrah di kawasan Indonesia tengah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News