Bandara Riyadh Tutup karena Serangan Rudal, Bisnis Travel Umrah Terpengaruh?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Situasi keamanan di Arab Saudi agak mengkhawatirkan menyusul serangan rudal mematikan di Bandara Riyadh yang membuat bandara ini ditutup sementara.

Situasi ini berpotensi menekan bisnis travel umrah. Selain perubahan jadwal dan pembatalan penerbangan, kondisi tersebut dapat memengaruhi penjualan baru serta arus kas perusahaan.

Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Republik Indonesia (AMPHURI) Zaky Zakaria Anshary mengatakan, dampak yang perlu diwaspadai travel saat ini adalah perubahan jadwal, pembatalan penerbangan tertentu, terutama pada rute transit, serta keterlambatan keberangkatan maupun kepulangan jemaah.


Namun, gangguan di Bandara Riyadh tidak serta-merta menghentikan seluruh penerbangan menuju Jeddah dan Madinah. Dampaknya bergantung pada rute dan maskapai yang digunakan.

“Namun perlu dipahami, gangguan di Bandara Riyadh tidak otomatis berarti seluruh penerbangan menuju Jeddah dan Madinah terhenti. Dampaknya harus dilihat berdasarkan rute dan maskapai masing-masing,” ujar Zaky kepada Kontan, Selasa (13/10/2026).

Baca Juga: Menperin: BUMN Tekstil Bakal Akuisisi Sritex

Menurut Zaky, perubahan jadwal penerbangan juga dapat merembet ke komponen perjalanan lainnya. Travel tidak hanya harus mengatur tiket pesawat, tetapi juga reservasi hotel, transportasi, visa hingga jadwal pelayanan jemaah selama berada di Arab Saudi.

Di sisi lain, kondisi tersebut berpotensi membuat calon jemaah menunda keputusan untuk melakukan perjalanan umrah. AMPHURI belum memiliki data konsolidasi mengenai jumlah permintaan pembatalan atau penjadwalan ulang dari anggota asosiasi.

Zaky mengatakan, calon jemaah wajar meminta kepastian mengenai keamanan dan jadwal perjalanan. Karena itu, pihaknya mengimbau anggota AMPHURI memberikan informasi secara terbuka dan tidak memaksakan keberangkatan ketika kondisi penerbangan belum aman.

“Kami mengimbau anggota agar memberikan informasi secara terbuka, tidak memaksakan keberangkatan ketika kondisi penerbangan belum aman, dan mengutamakan pilihan penjadwalan ulang sesuai ketentuan apabila diperlukan,” katanya.

Menurut Zaky, dampak terbesar dalam jangka pendek justru berpotensi terjadi terhadap kepercayaan calon jemaah. Masyarakat dinilai tidak serta-merta membatalkan niat umrah, tetapi dapat memilih menunggu situasi lebih pasti sebelum membayar atau menentukan tanggal keberangkatan.

Kondisi tersebut berpotensi menekan penjualan baru dan memperlambat arus kas travel. Di saat yang sama, perubahan penerbangan, hotel dan layanan di Arab Saudi dapat meningkatkan biaya operasional.

“Kalau gangguan berlangsung singkat, dampaknya kemungkinan masih bisa dikelola. Tetapi jika berlarut-larut, tekanan terhadap bisnis travel, khususnya yang memiliki keterbatasan modal kerja, tentu bisa semakin besar,” ujar Zaky.

Baca Juga: Travel Umrah Siapkan Mitigasi Dampak Gangguan Bandara Riyadh

AMPHURI berharap kondisi keamanan segera kembali kondusif. Zaky juga mengingatkan anggota asosiasi agar tidak menggunakan dana jemaah untuk menutup kerugian operasional di luar peruntukannya.

“Keselamatan jemaah adalah prioritas utama. Bisnis bisa menyesuaikan, jadwal bisa diatur ulang, tetapi keselamatan dan kepercayaan jemaah tidak boleh dikorbankan,” tegasnya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News