KONTAN.CO.ID – NEW YORK. Kebangkrutan Spirit Airlines pada awal Mei 2026 meninggalkan dampak besar bagi ribuan pekerjanya. Banyak pilot dan pramugari kini harus berlomba mencari pekerjaan baru di tengah pasar tenaga kerja penerbangan yang tidak mudah menyerap tenaga kerja dalam waktu singkat. Salah satu yang terdampak adalah Travis Arcamone. Pada April lalu, ia dinobatkan sebagai pramugari terbaik tahun ini di basis operasional Spirit Airlines di Orlando, Florida. Namun hanya sebulan kemudian, ia kehilangan pekerjaannya setelah maskapai tersebut gagal keluar dari proses kebangkrutan kedua dan akhirnya menghentikan operasinya. Penutupan Spirit Airlines membuat ribuan karyawan berebut peluang kerja di industri yang proses perekrutannya dapat memakan waktu berbulan-bulan. Banyak maskapai telah menetapkan jumlah pilot dan awak kabin yang akan direkrut setiap tahun serta sudah menyelesaikan perekrutan untuk menghadapi musim puncak perjalanan musim panas.
Di saat yang sama, industri penerbangan juga sedang melakukan penyesuaian kapasitas jangka pendek untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar jet, sembari tetap mempersiapkan ekspansi jangka panjang. Presiden Association of Flight Attendants-CWA, AFL-CIO, Sara Nelson, memperkirakan bahwa ratusan dari sekitar 3.500 pramugari Spirit Airlines kemungkinan membutuhkan waktu antara empat hingga lima bulan sebelum bisa mulai bekerja di maskapai lain.
Baca Juga: Iran Tegaskan Dukungan Bagi Hizbullah, Tuntut Israel Angkat Kaki dari Lebanon Selatan Menurut Nelson, estimasi tersebut bahkan merupakan skenario terbaik. Arcamone, yang hanya kurang satu bulan untuk mencapai masa kerja sembilan tahun di Spirit Airlines saat terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), kini mulai beradaptasi dengan pekerjaan barunya sebagai tenaga penjual mobil. Meski demikian, ia masih berharap dapat kembali bekerja di industri penerbangan.
Kehilangan Senioritas dan Penurunan Pendapatan
Berbeda dengan banyak sektor lainnya, pilot dan pramugari yang berhasil diterima kembali di maskapai lain harus menghadapi konsekuensi kehilangan senioritas. Mereka juga harus memulai kembali dari tingkat gaji terendah di perusahaan baru serta kehilangan fleksibilitas dalam memilih jadwal kerja maupun lokasi penempatan. Seorang pilot Spirit Airlines yang terkena PHK dan meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan bahwa pengalaman panjangnya belum tentu memberikan keuntungan signifikan ketika memulai pekerjaan baru. "Hampir satu dekade pengalaman saya di Spirit mungkin membantu saya mendapatkan pekerjaan di tempat lain, tetapi itu sama sekali tidak berarti apa-apa dalam menentukan seberapa baik pekerjaan tersebut ketika saya mulai bekerja," ujarnya kepada Reuters. Ia menambahkan: "Saya akan berada pada level yang sama dengan seseorang yang bahkan belum pernah menerbangkan pesawat jet sebelumnya." Pilot tersebut merupakan salah satu dari sekitar 1.800 pilot yang bekerja di Spirit Airlines saat maskapai itu menghentikan operasinya.
Gugatan Class Action terhadap Spirit Airlines
Mantan pekerja Spirit Airlines juga telah mengajukan gugatan class action pada bulan lalu. Mereka menuduh perusahaan gagal memberikan pemberitahuan PHK yang sesuai ketentuan. Melalui gugatan tersebut, para pekerja menuntut pembayaran gaji dan tunjangan selama 60 hari bagi sekitar 17.000 karyawan. Menurut kuasa hukum yang mewakili para pekerja, Spirit Airlines memiliki waktu hingga pertengahan Juli untuk memberikan tanggapan atas gugatan tersebut. Sementara itu, pengacara perusahaan menyatakan dalam sidang pengadilan bahwa maskapai telah memberikan pemberitahuan kepada karyawan secepat mungkin sesuai kondisi yang dihadapi perusahaan.
Baca Juga: SpaceX Gagal Masuk Cepat Indeks S&P 500 Meski Cetak IPO Terbesar Dunia Maskapai Besar Mulai Menyerap Sebagian Karyawan
Berdasarkan data Bureau of Labor Statistics Amerika Serikat, sekitar 130.000 pramugari di negara tersebut memperoleh pendapatan rata-rata US$77.440 per tahun. Sementara itu, lebih dari 100.000 pilot, kopilot, dan insinyur penerbangan menerima gaji rata-rata tahunan sebesar US$288.650. Sejumlah maskapai besar telah menunjukkan kesiapan untuk merekrut sebagian pekerja Spirit Airlines yang terdampak. Namun, peluang perekrutan masih terbatas, terutama bagi pramugari. Maskapai umumnya menyusun rencana perekrutan sejak awal tahun fiskal berdasarkan proyeksi pensiun pegawai, pertumbuhan armada, dan kebutuhan operasional. Kondisi tersebut membatasi kemampuan perusahaan untuk meningkatkan jumlah perekrutan secara mendadak. Selain itu, sebagian proses rekrutmen juga berkaitan dengan musim perjalanan tertentu sehingga mempersempit peluang masuk kerja. Program pelatihan yang tidak dibayar juga membuat calon karyawan harus menunggu lebih lama sebelum memperoleh penghasilan penuh.
Ribuan Lamaran Masuk ke Maskapai Besar
United Airlines yang berencana merekrut sekitar 1.300 pilot pada tahun 2026 mengungkapkan telah menerima sekitar 2.800 lamaran dari mantan karyawan Spirit Airlines untuk berbagai posisi. Delta Air Lines juga menyatakan akan merekrut ratusan pilot dan pramugari sepanjang tahun 2026. Sementara itu, American Airlines melaporkan telah menerima sekitar 2.000 lamaran dari mantan karyawan Spirit Airlines. Southwest Airlines bahkan meluncurkan situs khusus yang memungkinkan mantan pekerja Spirit mengeksplorasi berbagai peluang kerja yang tersedia. Frontier Airlines menyatakan akan terus merekrut mantan karyawan Spirit Airlines ketika terdapat posisi yang dibutuhkan. Di sisi lain, JetBlue Airways mengungkapkan bahwa proses perekrutannya saat ini masih ditangguhkan sementara. Serikat pekerja pramugari mengatakan banyak maskapai mengurangi jumlah kelas pelatihan atau bahkan menghentikan sementara perekrutan sehingga memperlambat penyerapan tenaga kerja yang terdampak.
Baca Juga: China Akan Memperketat Pengawasan Dana Investasi Swasta "Beberapa maskapai sebelumnya mengadakan pelatihan mingguan dengan sekitar 100 peserta setiap minggu. Saat ini jumlah tersebut telah dikurangi oleh maskapai-maskapai besar menjadi sekitar 30 peserta setiap dua minggu sekali," kata Nelson.
Prospek Pilot Lebih Baik Dibanding Pramugari
Meski menghadapi tantangan, prospek pilot dinilai relatif lebih baik dibandingkan awak kabin. Industri penerbangan masih membutuhkan tambahan pilot dalam jangka panjang seiring rencana ekspansi kapasitas dan gelombang pensiun yang diperkirakan terjadi dalam beberapa tahun ke depan. Pilot yang memiliki keahlian khusus seperti check airman—pilot yang berwenang mengevaluasi, melatih, dan memberikan sertifikasi kepada pilot lain—serta instruktur simulator diperkirakan akan lebih diminati oleh maskapai.
Namun demikian, perpindahan ke maskapai baru tetap membawa konsekuensi finansial yang tidak ringan, terutama bagi mereka yang tidak berhasil memperoleh posisi kapten secara langsung. Mantan pilot Spirit Airlines, Taylor Brown, yang meninggalkan maskapai tersebut pada Oktober tahun lalu untuk bergabung dengan UPS, mengatakan perubahan tersebut dapat berdampak besar terhadap pendapatan dan kualitas hidup. "Itu merupakan pemotongan gaji yang sangat besar dan perubahan yang sangat signifikan dibandingkan kualitas hidup yang Anda miliki sebelumnya," ujar Brown. UPS sendiri menyatakan kepada Reuters bahwa saat ini perusahaan telah memiliki jumlah pilot yang sesuai dengan kebutuhannya.