Bangladesh Gelar Pemilu Pertama di Dunia yang Terinspirasi Generasi Z



KONTAN.CO.ID - Setelah bertahun-tahun di bawah kepemimpinan mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina, oposisi Bangladesh nyaris tak memiliki ruang di jalanan saat pemilu, baik karena memboikot pemungutan suara maupun akibat penangkapan massal para pemimpin seniornya.

Namun menjelang pemilu Kamis (12/2/2026) ini, situasinya justru berbalik.

Partai Awami League milik Hasina kini dilarang, sementara banyak anak muda yang ikut menggulingkan pemerintahannya dalam pemberontakan 2024 menyebut pemilu kali ini sebagai pemilihan paling kompetitif pertama di negara mayoritas Muslim itu sejak 2009, ketika Hasina memulai kekuasaannya selama 15 tahun.


Baca Juga: Emas dan Perak Lanjutkan Penguatan Senin (9/2) Pagi, Seiring Melemahnya Dolar AS

Partai Nasionalis Bangladesh (BNP) diperkirakan luas akan memenangkan pemilu, meski koalisi yang dipimpin partai Islam Jamaat-e-Islami memberikan perlawanan kuat.

Sebuah partai baru yang digerakkan aktivis Generasi Z berusia di bawah 30 tahun memilih beraliansi dengan Jamaat setelah gagal mengonversi mobilisasi jalanan anti-Hasina menjadi basis elektoral.

Ketua BNP Tarique Rahman mengatakan kepada Reuters bahwa partainya, yang mencalonkan kandidat di 292 dari total 300 kursi parlemen, yakin akan meraih suara “cukup untuk membentuk pemerintahan”.

Para analis menilai hasil tegas dalam pemilu 12 Februari sangat penting untuk memulihkan stabilitas di negara berpenduduk sekitar 175 juta jiwa itu.

Baca Juga: Pelemahan Yen Kian Dalam Usai Kemenangan Takaichi Buka Jalan Stimulus Tambahan

Setelah kejatuhan Hasina memicu berbulan-bulan gejolak dan mengganggu sektor-sektor utama ekonomi, termasuk industri garmen—penopang ekspor terbesar kedua dunia.

Hasil pemilu juga akan memengaruhi peran dua kekuatan regional pesaing, China dan India, di Bangladesh.

“Survei opini menunjukkan BNP unggul, tetapi kita harus ingat bahwa sebagian besar pemilih masih belum menentukan pilihan,” kata Parvez Karim Abbasi, Direktur Eksekutif Centre for Governance Studies di Dhaka.

“Banyak faktor akan menentukan hasil akhir, termasuk bagaimana Generasi Z yang mencakup sekitar seperempat pemilih memberikan suara mereka, karena pilihan mereka akan sangat menentukan.”

Di berbagai wilayah Bangladesh, poster dan spanduk hitam-putih bergambar simbol “ikat padi” milik BNP dan “timbangan” milik Jamaat terlihat menggantung di tiang dan pepohonan, serta ditempel di dinding-dinding pinggir jalan, berdampingan dengan poster kandidat independen. Posko-posko partai di sudut jalan memutar lagu kampanye dengan pengeras suara.

Baca Juga: Iron Lady Jepang Takaichi Raih Kemenangan Pemilu Bersejarah

Pemandangan ini sangat kontras dengan pemilu-pemilu sebelumnya, ketika simbol “perahu” Awami League mendominasi ruang publik.

Survei memperkirakan Jamaat yang sebelumnya sempat dilarang dan menentang kemerdekaan Bangladesh dari Pakistan pada 1971 akan mencatatkan hasil terbaiknya sepanjang sejarah pemilu, meski belum tentu menang.

Pengaruh China Menguat, India Melemah

Putusan pemilu juga diperkirakan memengaruhi keseimbangan pengaruh China dan India di Bangladesh dalam beberapa tahun ke depan.

Beijing meningkatkan perannya sejak Hasina yang dikenal dekat dengan India melarikan diri ke New Delhi setelah digulingkan dan hingga kini masih berada di sana.

Sementara pengaruh India dinilai menurun, BNP dipandang oleh sebagian analis lebih sejalan dengan kepentingan New Delhi dibanding Jamaat.

Baca Juga: Bursa Saham Jepang Melejit! Indeks Nikkei Tembus Rekor Tertinggi Baru di Pagi Ini

Sebaliknya, pemerintahan yang dipimpin Jamaat berpotensi mendekat ke Pakistan, sesama negara mayoritas Muslim dan rival lama India.

Sekutu Jamaat dari kalangan Generasi Z bahkan menyebut “hegemoni New Delhi” di Bangladesh sebagai salah satu kekhawatiran utama mereka, dan para pemimpinnya baru-baru ini bertemu diplomat China.

Jamaat, yang menyerukan masyarakat berlandaskan prinsip-prinsip Islam, menegaskan tidak berpihak pada negara mana pun.

Sementara itu, Tarique Rahman menyatakan jika BNP membentuk pemerintahan, pihaknya akan menjalin hubungan baik dengan negara mana pun yang “memberikan manfaat bagi rakyat dan negara saya”.

Bangladesh, salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan ekstrem yang masih tinggi, tengah bergulat dengan inflasi, cadangan devisa yang menipis, serta perlambatan investasi.

Kondisi tersebut mendorong negara ini mencari pembiayaan eksternal skala besar sejak 2022, termasuk miliaran dolar dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

Korupsi menjadi kekhawatiran utama bagi sekitar 128 juta pemilih, disusul inflasi, menurut survei lembaga pemikir Communication & Research Foundation dan Bangladesh Election and Public Opinion Studies yang berbasis di Dhaka.

Baca Juga: Menang Pemilu, Trump Ucapkan Selamat kepada Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi

Analis menilai citra bersih Jamaat menjadi salah satu daya tarik utama partai tersebut, bahkan lebih besar dibanding agenda keislamannya.

“Pemilih menunjukkan niat partisipasi yang tinggi, memprioritaskan isu korupsi dan ekonomi dibanding isu agama atau simbolik, serta mengharapkan pemimpin yang peduli, kompeten, dan akuntabel,” tulis survei tersebut.

Meski demikian, Tarique Rahman putra mantan Perdana Menteri Khaleda Zia masih dipandang sebagai kandidat terkuat untuk memimpin pemerintahan berikutnya.

Namun jika koalisi pimpinan Jamaat unggul, ketuanya, Shafiqur Rahman, berpeluang menjadi perdana menteri.

Mohammad Rakib, pemilih pemula berusia 21 tahun, mengatakan ia berharap pemerintahan mendatang memberi ruang kebebasan berekspresi dan hak pilih yang nyata.

“Semua orang sudah lelah dengan Awami League. Orang-orang bahkan tidak bisa memilih dalam pemilu nasional. Kami tidak punya suara,” katanya.

“Saya berharap pemerintahan berikutnya, siapa pun yang berkuasa, bisa menjamin kebebasan berekspresi ini.”

Selanjutnya: Ditopang Normalisasi AMMN & Tambahan PI Corridor, Kinerja MEDC Diproyeksikan Melesat

Menarik Dibaca: Katalog Promo Alfamidi Hemat Satu Pekan 9-15 Februari 2026, Es Krim Beli 2 Hemat!