KONTAN.CO.ID - KEPULAUAN RIAU. Pemerintah menargetkan proyek hulu minyak dan gas (migas) North Hub Development Project Selat Makassar sudah bisa beroperasi (on stream) pada kuartal IV-2028. Guna mengejar target tersebut, Searah Limited selaku pengelola proyek hulu migas laut dalam tersebut memulai pembangunan fasilitas Floating Production, Storage and Offloading (FPSO). Searah Limited merupakan perusahaan hulu migas hasil kerja sama antara ENI dan Petronas. Kongsi perusahaan migas raksasa asal Italia dan Malaysia tersebut telah menunjuk PT Saipem Indonesia untuk menggarap pembangunan FPSO yang diberi nama Bahtera Haluan Lestari (BHL) Saipem Indonesia telah memulai proses pembangunan FPSO BHL yang ditandai dengan pemotongan baja pertama (first steel cut). Peresmian first steel cut FPSO BHL berlangsung di Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau pada Kamis (23/7/2026).
Baca Juga: DEN: Investasi Hulu Migas Tetap Menarik, 8 WK Baru Kantongi Komitmen US$ 57,95 Juta Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), Djoko Siswanto mengungkapkan North Hub Development Project mengintegrasikan pengembangan lapangan gas Geng North dan Gehem. Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berlokasi di cekungan Kutei, Kalimantan Timur ini menjadi salah satu proyek hulu migas terbesar. Secara keseluruhan, PSN ini akan menyerap investasi mencapai sekitar US$ 15 miliar. "Total nilai lebih kurang dibulatkan sebesar US$ 15 miliar, yaitu terdiri dari pembangunan FPSO hampir US$ 3 miliar dan selebihnya hampir US$ 12 miliar untuk capex lainnya. Proyek ini menjadi salah satu investasi hulu migas terbesar yang sedang dikembangkan di Indonesia," ungkap Djoko. Ssbagai bagian dari proyek tersebut, Searah menggarap Kutei North Hub (KNH) dengan investasi sekitar US$ 11,8 miliar. Nilai tersebut mencakup pembangunan FPSO dengan nilai investasi sebesar US$ 2,9 miliar. CEO Searah North Ganal Limited, Mirko Araldi mengatakan bahwa BHL merupakan proyek FPSO terbesar di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara. Dengan bobot 145.800 ton, FPSO BHL memiliki kapasitas produksi gas hingga 1.000 MMSCFD dan 80.000 BCPD kondensat.
Baca Juga: Pengusaha Soroti Tiga Hal Ini untuk Tingkatkan Daya Saing dan Investasi Hulu Migas Fasilitas ini dirancang untuk mendukung operasi proyek laut dalam atau ultra deepwater dengan kedalaman lebih dari 2.000 meter. Di samping akan memperkuat ketahanan energi, pembangunan FPSO BHL ini juga memberikan dampak bergulir ekonomi dengan membuka lebih dari 8.000 lapangan kerja. "Kami menargetkan produksi perdana pada 2028, mencerminkan komitmen kuat, kolaborasi dan keunggulan eksekusi dari seluruh pihak yang terlibat," ujar Mirko. Mayoritas Produksi untuk Kebutuhan Domestik Sementara itu, Djoko membeberkan bahwa mayoritas atau sebanyak 72% produksi gas dari North Hub Development Project dialokasikan untuk kebutuhan domestik. Djoko merinci sebanyak 2.040 MMSCF atau 52% akan dialokasikan untuk gas pipa, yang akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan industri, kelistrikan dan rumah tangga. Sebanyak 453 MMSCF (12%) akan dipakai untuk memasok LNG ke pasar domestik. Kemudian, 328 MMSCF (8%) akan digunakan sebagai buffer atau cadangan LNG untuk kebutuhan dalam negeri.
Tanpa merinci besaran volumenya, Djoko menambahkan bahwa proyek North Hub ini juga akan memproduksi CNG. Sebagai dukungan atas upaya Pemerintah melakukan diversifikasi energi dari produksi dalam negeri, yakni dengan memperluas penggunaan CNG untuk kebutuhan rumah tangga guna mengurangi impor LPG. Sementara itu, sebesar 1.075 MMSCF atau sekitar 28% dari produksi gas North Hub akan dialokasikan untuk pasar ekspor LNG. Di samping menambah devisa dari ekspor LNG, proyek North Hub ini diproyeksikan menghasilkan penerimaan negara sekitar US$ 12,9 miliar.
Baca Juga: 8 Proyek Hulu Migas Onstream Tahun Ini, Serap Investasi US$ 478 Juta Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News