KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana pembelian kembali atau
buyback saham PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (
CBDK) dinilai harus dilakukan secara hati-hati. Asal tahu saja, emiten properti terafiliasi Sugianto Kusuma itu berencana lagi melakukan
buyback saham di tengah penurunan harga sahamnya. Pelaksanaan
buyback saham CBDK akan dimulai pada 20 Agustus 2026 dan berlangsung hingga 19 November 2026.
Aksi korporasi tersebut dilakukan antara lain untuk mengurangi tekanan jual terhadap saham CBDK di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.
Baca Juga: BIPP Segera Private Placement, Cek Profil Emiten Properti dan Kinerja Terbarunya Selain itu,
buyback diharapkan dapat menjaga kepercayaan pemegang saham terhadap nilai fundamental perseroan. Nilai maksimal aksi korporasi itu mencapai Rp 250 miliar. Perseroan menyatakan dana
buyback tersebut sudah termasuk biaya transaksi dan akan menggunakan dana internal perusahaan. “Saldo kas dan bank CBDK masih mumpuni untuk bisa menjalankan
buyback saham periode ketiga ini,” kata Sekretaris Perusahaan PANI, Christy Grassela kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). Melansir RTI, saham CBDK sudah turun 55,20% sejak awal tahun alias
year to date (YTD). Senasib, saham induknya, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) turun 51,39% YTD. Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia melihat,
buyback hingga Rp250 miliar masih relatif mampu dilakukan bagi CBDK dari sisi likuiditas. Per 30 Juni 2026, perseroan memiliki kas dan setara kas sekitar Rp 3,4 triliun. “Sehingga nilai maksimal
buyback hanya sekitar 7% dari posisi kas, dan
current ratio secara proforma masih sekitar 1,47x,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (20/8/2026). Namun, untuk keberlanjutan
buyback, arus kas tetap perlu diperhatikan.
Operating cash flow per semester I 2026 hanya sekitar Rp18 miliar, turun 96,8%
year on year (YoY) dari Rp 559 miliar.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,52% ke 6.535 di Sesi I Jumat (21/8), BUMI, BBNI, BBRI Top Gainers LQ45 “Oleh karena itu, kemampuan CBDK mempertahankan
buyback ke depan akan bergantung pada pemulihan
cash collection dan
operating cash flow, dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan pendanaan untuk pengembangan proyek,” paparnya. Di sisi lain, koreksi saham PANI yang lebih dalam dibandingkan
peers emiten properti salah satu faktor utamanya adalah normalisasi valuasi. Sebelumnya, saham PANI memang diperdagangkan dengan premium pada level
price to earnings ratio (PER) yang cukup tinggi dibandingkan emiten properti lainnya. Harga premium tersebut mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang tinggi terhadap pengembangan kawasan PIK2 dan monetisasi
landbank dalam jangka panjang. “Ketika sektor properti secara umum mengalami
re-rating, saham dengan valuasi premium cenderung mengalami penyesuaian yang lebih besar,” ungkapnya. Kinerja PANI dan CBDK dinilai memiliki keunggulan pada ekosistem PIK2, skala
landbank, serta
positioning produk yang relatif premium. Hal itu membuat Grup memiliki karakteristik yang cukup berbeda dibandingkan developer yang lebih terpapar segmen
mass-market. Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Berencana Akuisisi Perusahaan Otomotif Singapura dan Malaysia Ke depan, katalis utama keduanya akan berasal dari peningkatan monetisasi
landbank, pertumbuhan
marketing sales, serta perkembangan
commercial dan
recurring income. “Dengan demikian, prospeknya tetap positif secara jangka menengah, meskipun pemulihan sektor properti secara keseluruhan masih akan sangat bergantung pada perbaikan
demand dan kondisi suku bunga,” katanya. Tim Research Analyst Magenta Kapital Sekuritas Indonesia melihat, pun merekomendasikan
trading buy untuk CBDK dengan target harga awal Rp 4.400 per saham. Sementara, rekomendasi
wait and see disematkan untu PANI. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News