Banjir Kredit Jumbo ke Emiten Data Center, Analis Ungkap Prospek EDGE, MORA, TOWR



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Baru-baru ini sederet emiten mengantongi fasilitas pendanaan kredit dari perbankan dengan jumlah fantastis. 

Terbaru, anak usaha PT Indointernet Tbk (EDGE), PT Digital Gayana Ekaprana mengantongi fasilitas kredit dari sejumlah bank senilai US$ 530,2 juta.

Fasilitas kredit ini akan digunakan untuk mendukung pengembangan proyek pusat data (data center) milik DGE, guna memenuhi peningkatan permintaan akan layanan pusat data dan infrastruktur digital. 


Baca Juga: Indointernet (EDGE) Raih Kredit Jumbo US$ 530,2 Juta, Siap Ekspansi Data Center

Lalu, PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) meraih tambahan fasilitas kredit dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp 4 triliun.  Dana dari tambahan fasilitas kredit investasi ini rencananya akan dialokasikan untuk membiayai belanja modal pembangunan homepass, termasuk Customer Premises Equipment (CPE) beserta sarana dan prasarana pendukung operasional lainnya. 

Disamping itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga menerima fasilitas kredit sejumlah Rp 1,5 Triliun, PT Grahaprima Suksesmandiri Tbk (GTRA) Rp 130, 5 miliar dan PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII) Rp 80 miliar. 

Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama mengatakan fasilitas kredit ini secara umum bisa menjadi katalis positif jika digunakan untuk ekspansi produktif. Khusus EDGE, MORA, dan TOWR, kebutuhan belanja modal memang relatif besar sehingga tambahan pendanaan dapat mempercepat ekspansi dan membuka ruang pertumbuhan recurring revenue ke depan. 

Namun efek ke laba belum tentu langsung terlihat karena ada tambahan interest expense dan depresiasi. 

"Jadi yang perlu dilihat adalah apakah pertumbuhan EBITDA dan cash flow nantinya lebih tinggi dibanding kenaikan cost of debt," kata Elandry kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Untuk GTRA dan BPII, dampaknya juga akan bergantung pada seberapa produktif penggunaan fasilitas tersebut.

Secara terpisah, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyampaikan fasilitas kredit menjadi sentimen positif, tetapi tidak otomatis langsung meningkatkan fundamental.  "Dampaknya bergantung pada penggunaan dana," ucap Azis. 

Baca Juga: Harga Komoditas Energi Kompak Menguat dalam Sebulan

EDGE dan MORA berpotensi mencatat pertumbuhan lebih agresif karena dana diarahkan untuk ekspansi data center dan jaringan fiber, sementara TOWR cenderung lebih defensif karena recurring income dari bisnis menara serta fleksibilitas untuk refinancing. 

GTRA dan BPII relatif lebih bergantung pada efektivitas penggunaan dana untuk meningkatkan aset produktif.

Pendanaan Kredit Bank Masih Realistis

Elandry mengungkapkan pendanaan perbankan saat ini cukup realistis, terutama untuk ekspansi yang membutuhkan kepastian dana dan fleksibilitas pencairan. Dibanding rights issue, bank loan tidak menimbulkan dilusi, sementara dibanding obligasi prosesnya bisa lebih fleksibel dan tidak terlalu tergantung market sentiment maupun risk appetite investor. 

Tetapi konsekuensinya leverage meningkat, sehingga emiten tetap harus menjaga gearing, cash flow, dan kemampuan membayar bunga.

Senada, Azis mengungkapkan dalam kondisi pasar saat ini, kredit bank memang relatif lebih realistis dibandingkan penerbitan saham karena tidak menimbulkan dilusi dan prosesnya lebih fleksibel. 

Baca Juga: IHSG Menguat 1,82% Sepekan Ini, Cermati Pemicu dan Rekomendasi Saham Pekan Depan

Namun, investor tetap perlu mencermati cost of fund, leverage, tenor, serta kemampuan ekspansi menghasilkan EBITDA. Utang akan positif jika digunakan untuk aset produktif, tetapi dapat menjadi beban jika pertumbuhan pendapatan tidak mampu mengimbangi kenaikan bunga.

Bagi investor, besarnya plafon kredit jangan langsung dianggap sebagai katalis kenaikan harga saham. Yang lebih penting dicermati adalah tujuan penggunaan dana, bunga dan tenor pinjaman, tambahan leverage, serta kemampuan proyek menghasilkan return di atas cost of debt. 

Apabila ekspansi berhasil meningkatkan revenue dan EBITDA tanpa membuat neraca terlalu agresif, sentimennya positif. Sebaliknya, kalau utang bertambah lebih cepat dibanding cash flow, risiko terhadap fundamental dan valuasi justru meningkat.

Adapun Azis menyarankan investor sebaiknya tidak hanya melihat besarnya fasilitas kredit, tetapi fokus pada tujuan penggunaan dana dan potensi tambahan revenue/EBITDA. Dari sisi rekomendasi saham, Azis menyarankan trading buy saham TOWR di target harga Rp 500 per saham. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News