KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perbankan mulai mengandalkan pendapatan berbasis komisi atau fee-based income (FBI) untuk memperkuat kinerja di tengah tekanan pendapatan bunga. Strategi ini menjadi salah satu cara bank mendiversifikasi sumber pendapatan, terutama ketika pertumbuhan pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) melambat, bahkan menurun. Berdasarkan laporan keuangan hingga Agustus 2026, sejumlah bank besar mencatatkan pertumbuhan pendapatan komisi, provisi, dan administrasi yang lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan NII.
Namun, kontribusi pendapatan nonbunga tersebut belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan pendapatan bunga di sejumlah bank. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI), misalnya, mencatatkan NII sebesar Rp77,26 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh 3,44% secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan Rp74,69 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan komisi BRI meningkat 5,37% yoy menjadi Rp14,06 triliun.
Baca Juga: NIM Tertekan, Bank Makin Agresif Genjot Fee Based Income Pertumbuhan FBI yang lebih tinggi juga terlihat di PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. NII Bank Mandiri naik 7,16% yoy menjadi Rp54,84 triliun hingga Agustus 2026. Adapun pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi meningkat 21,95% yoy menjadi Rp15,53 triliun. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membukukan NII sebesar Rp53,82 triliun hingga Agustus 2026, tumbuh tipis 1,33% yoy dibandingkan Rp53,12 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Di sisi lain, pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi BCA tumbuh 7,75% yoy menjadi Rp13,59 triliun dari sebelumnya Rp12,61 triliun. PT Bank CIMB Niaga Tbk juga mencatatkan pertumbuhan pendapatan komisi di tengah penurunan NII. Hingga Agustus 2026, NII CIMB Niaga turun 1,27% yoy menjadi Rp7,92 triliun dari Rp8,03 triliun. Sebaliknya, pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi naik 4,12% yoy menjadi Rp1,86 triliun dari Rp1,79 triliun. Kondisi serupa terjadi di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN). NII BTN turun 18,57% yoy menjadi Rp9,17 triliun hingga Agustus 2026, dibandingkan Rp11,26 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi turun tipis 0,98% yoy menjadi Rp911,53 miliar dari Rp920,51 miliar. Berbeda dengan bank-bank tersebut, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) mencatatkan pertumbuhan NII yang lebih tinggi. NII BNI meningkat 14,33% yoy menjadi Rp28,88 triliun hingga Agustus 2026, dari Rp25,26 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan komisi, provisi, fee, dan administrasi BNI juga tumbuh 11,61% yoy menjadi Rp7,47 triliun dari Rp6,69 triliun. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai, pendapatan nonbunga menjadi salah satu cara bagi perbankan untuk mendiversifikasi pendapatan di tengah risiko penyaluran kredit. “Pendapatan nonbunga sebenarnya cara bank menghindari risiko penyaluran kredit. Ada diversifikasi pendapatan di saat tekanan, misalnya ke kredit konsumsi dan modal kerja sedang naik, terutama segmen mikro,” ujarnya kepada kontan.co.id, Rabu (14/10/2026). Menurut dia, sumber pendapatan nonbunga seperti transaksi QRIS, layanan mobile banking, hingga wealth management memiliki prospek yang menjanjikan. Meski demikian, pertumbuhan FBI tidak serta-merta dapat menggantikan fungsi intermediasi perbankan. “Persoalannya pertumbuhan persentase fee yang tinggi sering berasal dari nilai transaksi yang kecil, jadi fee tidak bisa menggantikan fungsi intermediasi kredit,” katanya. Ia juga mengingatkan bank agar memperhatikan biaya yang diperlukan untuk meningkatkan pendapatan nonbunga. Pasalnya, investasi teknologi dan pemasaran untuk mengembangkan layanan transaksi dapat menambah beban operasional.
Baca Juga: BTN Perkuat Fee Based Income lewat Ekosistem Digital “Beberapa bank NII-nya naik, tapi biaya ikut naik. Perlu diperhatikan juga rasio antara upaya bank menaikkan pendapatan nonbunga dengan biaya investasi teknologi dan pemasaran terkait fasilitas itu,” ujarnya. Di sisi lain, Presiden Direktur CIMB Niaga, Lani Darmawan mengatakan, perseroan telah memfokuskan pengembangan pendapatan nonbunga di tengah tekanan margin bunga. “Kami telah memfokuskan revenue ke pendapatan nonbunga atau fee income mengingat bahwa margin cenderung masih tertekan dan potensi fee income yang masih baik,” kata Lani. Ia menyebut, pertumbuhan pendapatan nonbunga CIMB Niaga terutama berasal dari layanan wealth management yang tumbuh sekitar 20% yoy. Selain itu, pendapatan dari remitansi juga tumbuh dua digit, disertai kontribusi layanan multi-currency dan biaya administrasi lainnya. Saat ini, rasio pendapatan berbasis komisi terhadap total pendapatan CIMB Niaga atau fee-to-income ratio telah berada di atas 32%. Meski demikian, Lani mengakui pertumbuhan pendapatan nonbunga masih belum mampu sepenuhnya menutup pelemahan pendapatan bunga. Adapun, Executive Vice President (EVP) Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn mengatakan, peningkatan FBI tidak terlepas dari pengembangan bisnis perbankan transaksi melalui kanal digital maupun nondigital. “Pengembangan terus-menerus yang kami lakukan membuat volume transaksi yang diproses BCA naik 60% dalam kurun tiga tahun terakhir. Saat ini, hampir seluruh transaksi yang diproses BCA merupakan transaksi digital,” ujar Hera. Ia menambahkan, jumlah rekening nasabah BCA tumbuh konsisten hingga mencapai 42 juta rekening per akhir Juni 2026. Pertumbuhan jumlah rekening dan frekuensi transaksi tersebut didukung inovasi produk dan layanan serta ekspansi ekosistem transaksi perbankan melalui kanal daring maupun luring. Ke depan, BCA akan terus mengembangkan platform transaksi perbankan yang aman dan andal untuk memenuhi kebutuhan nasabah, sekaligus memperluas basis nasabah dan meningkatkan volume transaksi. Langkah tersebut diharapkan mendukung pertumbuhan pendapatan selain bunga. Sementara itu, Direktur Commercial Banking BTN, Hermita mengatakan, peningkatan pendapatan nonbunga merupakan bagian dari strategi jangka panjang perseroan untuk memperkuat struktur pendapatan dan menjaga profitabilitas secara berkelanjutan.
Baca Juga: CIMB Niaga Andalkan Fee Based Income di Tengah Tekanan NIM “Ke depan, BTN akan terus mengoptimalkan pendapatan bunga dari bisnis intermediasi sekaligus meningkatkan kontribusi fee-based income sebagai sumber pertumbuhan baru. Dengan demikian, kedua sumber pendapatan tersebut diharapkan dapat saling melengkapi dalam mendukung kinerja perseroan,” ujar Hermita. Ia menjelaskan, pendapatan nonbunga BTN bersumber dari berbagai aktivitas layanan perbankan, antara lain transaksi dan administrasi perbankan, layanan pembayaran, pengelolaan dana nasabah, bancassurance, serta aktivitas tresuri. BTN juga mengembangkan layanan keuangan yang terintegrasi dengan ekosistem perumahan untuk memperluas sumber pendapatan berbasis komisi. Untuk meningkatkan FBI, BTN memperkuat transaksi digital, mengoptimalkan produktivitas jaringan kantor, memperluas kerja sama strategis, serta mendorong cross-selling kepada nasabah eksisting.
Di sisi lain, BTN tetap berupaya meningkatkan NII melalui pertumbuhan kredit berkualitas, optimalisasi komposisi pendanaan, dan pengelolaan biaya dana secara efisien. Perseroan optimistis kombinasi pertumbuhan pendapatan bunga dan peningkatan kontribusi pendapatan nonbunga dapat menopang profitabilitas hingga akhir 2026.
Baca Juga: BI Rate Naik, Bank Mulai Andalkan Fee-Based Income untuk Jaga Profit Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News