KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah bank yang dikendalikan investor asing masih mencatat pertumbuhan kredit hingga Agustus 2026. Di tengah itu, bank mulai menangkap peluang pembiayaan dari perusahaan asal negara investor beserta rantai bisnisnya di Indonesia. Penyaluran kredit Citi Indonesia misalnya, mencapai Rp 32,52 triliun, naik 13,42% yoy dibandingkan Agustus 2025 sebesar Rp 28,67 triliun. Sementara itu, kredit CIMB Niaga tumbuh 11,37% yoy menjadi Rp 178,41 triliun dari Rp 160,19 triliun. Adapun penyaluran kredit KB Bank meningkat 6,48% yoy menjadi Rp 46,92 triliun dari Rp 44,06 triliun.
Baca Juga: BI Catat 32.457 Kartu Kredit Indonesia Terbit hingga Agustus 2026, Hampir 8.000 Aktif PT Bank KB Indonesia Tbk (KB Bank) melihat konektivitas bisnis Korea Selatan dan Indonesia sebagai peluang untuk memperluas layanan perbankan kepada perusahaan asal Korea Selatan beserta jaringan bisnisnya di Indonesia. Direktur Wholesale KB Bank Widodo Suryadi mengatakan, salah satu keunggulan KB Bank dalam menggarap perusahaan asal Korea Selatan adalah kedekatan dengan ekosistem bisnis Korea yang telah terbangun di negara asalnya. Menurut Widodo, perusahaan Korea Selatan sudah familiar dengan KB Bank di pasar domestiknya. Kondisi tersebut menjadi modal bagi perseroan untuk menghubungkan kebutuhan bisnis perusahaan Korea dengan operasional mereka di Indonesia. "Kita mempunyai head start dibanding kompetitor-kompetitor kami dalam memberikan layanan kepada perusahaan Korea. Karena perusahaan Korea itu sendiri, di home market-nya, di Seoul dan sekitarnya, mereka sudah sangat familiar dengan KB," ujar Widodo dalam Media Workshop KB Bank di Jakarta, Kamis (24/9/2026). Menurut dia, konektivitas antara Korea Selatan dan Indonesia masih memiliki ruang untuk digarap lebih jauh. Terlebih, aktivitas transaksi kedua negara dinilai memiliki volume yang besar. Peluang tersebut juga tidak hanya berasal dari perusahaan Korea Selatan berskala besar seperti Samsung dan Lotte. Kehadiran perusahaan besar tersebut turut menciptakan rantai bisnis dengan distributor serta perusahaan lokal di Indonesia. "Enggak semuanya itu perusahaan besar. Tetapi perusahaan yang mungkin kelas menengah atau bahkan beberapa itu perusahaan kecil. Nah, ini yang sebenarnya kita ingin lebih jauh supaya kita bisa mendapatkan satu mata rantai di situ," jelas Widodo.
Baca Juga: Bank Mandiri Kucurkan KUR Rp 29,53 Triliun hingga Agustus 2026 Dengan strategi tersebut, KB Bank tidak hanya membidik kebutuhan perbankan perusahaan induk asal Korea Selatan, tetapi juga berupaya menangkap kebutuhan transaksi dari rantai bisnis yang terbentuk di Indonesia. KB Bank menawarkan layanan terintegrasi mulai dari
cash management,
trade financing hingga kustodian. "
Unique value proposition-nya sebetulnya kita meng-capture seluruh aliran cash flow masyarakat itu dari hulu ke hilir. Jadi kita semua merangkum dan semua menjadi satu," kata Widodo. Hingga akhir tahun target kredit KB Bank juga akan lebih searah dengan target industri yang dipatok Bank Indonesia, yakni di kisaran 8%-12% (yoy). Widodo menambahkan perseroan, kini tidak sekadar mengejar volume, melainkan mengutamakan penilaian dan pemantauan agar portofolio tidak mengalami pemburukan. Di sisi lain, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengatakan, meski mayoritas saham CIMB Niaga dimiliki CIMB Group Sdn Bhd asal Malaysia, fokus penyaluran kredit perseroan tetap berada di pasar domestik. Sebagai bank universal, CIMB Niaga menggarap berbagai segmen, mulai dari korporasi, UMKM hingga ritel. Lani mengatakan, kinerja perseroan sejauh ini masih sesuai target. Namun, permintaan kredit masih relatif lemah sehingga likuiditas industri perbankan cukup longgar. Kondisi tersebut turut menekan margin bunga, terutama pada segmen ritel dan UMKM. Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga memperbesar kontribusi pendapatan berbasis komisi atau fee based income.
Baca Juga: Amvesindo Proyeksikan NPF Modal Ventura Berangsur Stabil hingga Akhir 2026 Untuk segmen korporasi, CIMB Niaga saat ini lebih fokus menggarap nasabah eksisting agar perseroan dapat memahami pergerakan bisnis nasabah secara lebih menyeluruh. Di sisi lain, CIMB Niaga juga memiliki nasabah investor asal Malaysia yang dibawa ke Indonesia untuk berinvestasi, termasuk mendapatkan fasilitas pembiayaan dari perseroan. Namun, Lani menegaskan porsi kredit kepada perusahaan asal Malaysia masih relatif kecil terhadap total pembiayaan CIMB Niaga. "Kami juga mempunyai nasabah investor asal Malaysia yang kami bawa ke Indonesia untuk berinvestasi termasuk memberikan kreditnya. Porsi kredit ke perusahaan Malaysia relatif kecil secara persentase," ujar Lani. Sementara itu, CEO Citi Indonesia Batara Sianturi optimistis target pertumbuhan kredit perseroan pada level high single digit dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) 2026 dapat tercapai. Optimisme tersebut ditopang oleh pipeline kredit pada paruh kedua 2026 yang mencapai sekitar Rp5 triliun. Sekitar 50% dari pipeline tersebut ditujukan untuk korporasi lokal, sedangkan sisanya untuk korporasi multinasional, commercial banking dan trade loan. Tiga sektor utama yang masuk dalam pipeline Citi antara lain telekomunikasi, institusi keuangan, serta pertambangan dan konstruksi. Selain itu, Citi juga melihat peluang dari sektor ritel dan kimia.
Baca Juga: PT AIA Syariah Insurance Resmi Beroperasi Setelah Kantongi Izin OJK Dari sisi portofolio, Citi banyak menyalurkan pembiayaan ke sektor telekomunikasi, lembaga keuangan, konstruksi, ritel dan industri kimia. Pada semester I-2026, multifinance, lembaga keuangan nonbank, makanan dan minuman serta manufaktur menjadi kontributor utama pertumbuhan kredit korporasi Citi. Sementara pada segmen commercial banking, pertumbuhan kredit terutama berasal dari perusahaan teknologi yang sedang berkembang. Batara mengatakan, permintaan pembiayaan dari nasabah korporasi masih terjaga, baik untuk kebutuhan modal kerja maupun investasi, dari perusahaan multinasional maupun korporasi domestik.
"Tahun ini kami melihat permintaan kredit masih kuat terutama dari sektor telekomunikasi, lembaga keuangan maupun nonkeuangan, konstruksi, pertambangan, ritel, dan kimia," ujar Batara. Citi menargetkan pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran high single digit, yakni sekitar 5%-10%. Batara menilai diversifikasi portofolio menjadi salah satu strategi perseroan untuk menjaga pertumbuhan bisnis di tengah dinamika ekonomi global. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News