Bank Asing Gencar Aksi Korporasi Demi Penuhi Aturan Konglomerasi Keuangan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank asing terpantau gencar melancarkan aksi korporasi tahun ini. Itu dilakukan demi mematuhi aturan otoritas soal konglomerasi keuangan. 

Terbaru ada PT Bank OCBC NISP Tbk (OCBC Indonesia) yang belum lama ini mengantongi restu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menjadi pemegang saham pengendali PT Great Eastern Life Indonesia (GELI). 

Status baru itu bakal disandang OCBC Indonesia begitu kepemilikan saham GELI disesuaikan sehingga grup bank asal Singapura itu menguasai 20% dari total saham. Utamanya, saham istimewa untuk mengendalikan, mengonsolidasikan, dan mengambil alih tanggung jawab penuh atas seluruh aktivitas keuangan GELI. 


Baca Juga: Permata Bank Bukukan Laba Bersih Naik 4,5% di Semester I-2026, Kredit Tumbuh 5,3%

Meski begitu, pemegang saham pengendali terakhir alias ultimate shareholder GELI tak berubah, yakni tetap Oversea-Chinese Banking Corporation Limited. Akuisisi saham GELI dilakukan lebih untuk mematuhi POJK tentang Konglomerasi Keuangan dan Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK). Yang mana, OCBC Indonesia bertindak sebagai PIKK. 

Begitu OCBC Indonesia resmi menguasai 20% saham GELI nanti, total aset OCBC Indonesia per 31 Desember 2025 bertambah dari Rp 308,14 triliun menjadi Rp 323,72 triliun. 

PT Bank Maybank Indonesia Tbk juga bersiap mengakuisisi saham sister companies-nya. Bulan lalu, grup bank asal Malaysia ini baru saja mengantongi persetujuan pemegang saham untuk menjadi PIKK. 

Seiring dengan itu, Maybank Indonesia bakal mengambil alih kepemilikan saham PT Maybank Asset Management, PT Maybank Sekuritas Indonesia, dan PT Asuransi Etiqa Internasional Indonesia. Namun, proses tersebut masih menunggu restu dari regulator terkait. 

Setelah proses pengambilalihan rampung, struktur Konglomerasi Keuangan Maybank bakal terdiri atas PT Bank Maybank Indonesia Tbk sebagai perusahaan induk, dengan anggota lainnya termasuk PT Maybank Indonesia Finance dan PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance).

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan menyebut, saat ini pihaknya fokus memastikan implementasi struktur konglomerasi berjalan secara optimal agar dapat memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. 

Selain itu, pihaknya juga terus mencermati berbagai peluang ekspansi anorganik yang sejalan dengan strategi jangka panjang grup. Secara khusus fokus diarahkan pada segmen-segmen yang menjadi kekuatan utamanya, termasuk ritel dan korporasi, serta wealth management.

“Kami mencermati dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, disiplin dalam alokasi modal, serta mempertimbangkan kondisi pasar dan ketentuan regulator,” kata Steffano kepada Kontan, Kamis (30/7/2026). 

Steffano tak merincikan dampak pembentukan konglomerasi ini terhadap neraca keuangan grup. Yang pasti, pihaknya berharap sinergi yang semakin kuat dapat mendukung pertumbuhan bisnis yang sehat, memperluas basis nasabah, serta meningkatkan kontribusi terhadap pertumbuhan aset secara berkelanjutan.

PT Bank Danamon Indonesia Tbk juga baru saja menerima mandat sebagai PIKK Operasional dari Konglomerasi Keuangan MUFG di Indonesia. Nah agak berbeda dengan dua grup bank sebelumnya, Bank Danamon tak menempuh jalur akuisisi, melainkan integrasi. 

Bulan Mei lalu Bank Danamon mengumumkan rencana integrasi dengan MUFG Cabang Indonesia. Artinya, tak ada aksi pengambilalihan saham, itu lantaran MUFG Cabang Indonesia berstatus Kantor Cabang Bank Asing (KCBLN) sehingga tak memungkinkan dilakukan merger.

Kini, Konglomerasi Keuangan MUFG di Indonesia terdiri atas Bank Danamon yang bertindak sebagai PIKK Operasional dan anggotanya adalah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk, PT Home Credit Indonesia, dan PT Mandala Multi Finance Tbk. 

Di sisi lain, PT Bank CIMB Niaga Tbk sudah tampil lebih matang dengan berbagai anak usaha yang dimiliki. Maka dari itu, pihaknya saat ini masih fokus pada segmen-segmen yang menjadi keahliannya sebagai salah satu bank swasta besar di Indonesia. 

Meski begitu, Lani mengaku juga tetap mencermati tiap-tiap potensi yang ada. “Dengan peraturan konglomerasi saat ini akan menjadi variabel untuk terus mengeksplorasi potensi ekspansi. Investasi terus kami kuatkan di Indonesia,” kata Lani. 

Baca Juga: Bank Danamon Jaga NPL di Level 1,7%, Jaga Tetap Rendah di Tengah Pelemahan Daya Beli

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News