Bank Asing Ramai-ramai Perbesar Bisnis di Indonesia



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Sejumlah bank asing memperkuat pijakan bisnis di Indonesia melalui aksi akuisisi dan integrasi usaha. Langkah ini dilakukan untuk memperluas basis nasabah, memperkuat jaringan bisnis, serta menangkap peluang pertumbuhan di pasar domestik.

Dalam daftar ada PT Bank DBS Indonesia (DBSI) yang resmi menjadi pemegang saham pengendali PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia (DBSVI) dengan kepemilikan 99% saham. 

Bank asal Singapura mengumumkan transaksi pada awal September lalu, menjadi bagian dari pembentukan Konglomerasi Keuangan DBS di Indonesia dengan DBSI bertindak sebagai Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan (PIKK) Operasional.


Baca Juga: Bank Siapkan Strategi Bidik Transaksi di MotoGP Mandalika 2026

Kemudian ada PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) bersama MUFG Bank Ltd. yang memperkenalkan usulan nama dan logo bank hasil integrasi kedua entitas, yakni PT Bank MUFG Danamon Tbk. 

Penggunaan nama untuk bank asal Jepang ini masih menunggu persetujuan pemegang saham, kementerian terkait, dan regulator, serta baru akan berlaku setelah integrasi efektif.

Di sisi lain, PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) juga tengah mempersiapkan pengambilalihan aset dan liabilitas bisnis retail banking serta wealth management HSBC Indonesia. Transaksi tersebut ditargetkan rampung pada kuartal II-2027, dengan nilai aset kelolaan atau assets under management (AUM) yang dialihkan mencapai Rp 89,8 triliun.

Menariknya, HSBC Indonesia masih berupaya menggenjot akuisisi nasabah meski tengah bersiap melepas bisnis retail banking dan wealth management kepada bank asal Singapura itu. 

Head of Marketing & Customer International Wealth and Premier Banking HSBC Indonesia Fransisca Arnan menyebut, selama masa transisi, bank tetap berfokus memenuhi kebutuhan nasabah sekaligus menjaga kepercayaan terhadap layanan yang diberikan.

Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui program travel fair yang menyasar segmen nasabah premium. Fransisca bilang program tersebut secara historis turut mendorong pertumbuhan bisnis, antara lain melalui pembukaan rekening dan pengajuan kartu kredit baru. 

Asal tahu saja, dalam gelaran Januari 2026, total transaksi program ini tumbuh 44,35% secara tahunan atau 43% di atas target awal bank. Pada penyelenggaraan Oktober 2026, HSBC Indonesia pun kembali membidik pertumbuhan transaksi melalui program serupa.

Baca Juga: Kualitas Pembiayaan & Biaya Kredit BTPN Syariah (BTPS) Positif, Simak Prospeknya

“Fokus kita selalu kepada nasabah, bagaimana caranya kita terus mengenali kebutuhan nasabah,” ujar Fransisca, dikutip Minggu (11/10/2026).

Dalam pandangan Indonesia Country Executive Bank of America Mira Arifin, potensi pasar domestik menjadi salah satu faktor yang menarik bagi bank asing untuk memperluas bisnisnya di Indonesia.

Dengan populasi yang besar, struktur demografi relatif muda, serta masih adanya masyarakat yang belum terjangkau layanan perbankan, Indonesia menawarkan ruang pertumbuhan bagi pelaku industri keuangan.

Di sisi lain, sejumlah negara asal bank asing, seperti Singapura dan Jepang, menghadapi tantangan populasi yang menua. Kondisi tersebut mendorong pelaku industri keuangan dari negara-negara tersebut untuk mencari peluang pertumbuhan di pasar lain.

Menurut Mira, ekspansi melalui akuisisi juga dapat menjadi strategi untuk memperkuat skala bisnis. Dengan mengambil alih bisnis yang sudah berjalan atau mengintegrasikan entitas yang telah memiliki basis nasabah, bank dapat memperluas jangkauan pasar tanpa harus membangun seluruh infrastruktur bisnis dari awal.

Selain itu, tekanan biaya operasional turut menjadi pertimbangan. Menurutnya operasional perbankan membutuhkan tambahan modal dan standar pengelolaan yang tinggi. Di tengah persaingan dengan bank domestik yang memiliki jaringan luas, menjalankan bisnis secara mandiri dapat menjadi semakin mahal bagi bank asing.

“Dengan mengakuisisi, bank memiliki platform yang lebih besar, jaringan yang lebih luas, lebih banyak nasabah, dan akses untuk menjangkau populasi yang lebih muda,” jelasnya.

Baca Juga: Allianz Life Catat Premi Produk Dwiguna Rp 219,5 Miliar hingga Agustus 2026

Mira juga menyoroti dorongan konsolidasi di industri jasa keuangan Indonesia. Menurutnya, kebutuhan penambahan modal secara berkelanjutan dapat meningkatkan beban operasional, sehingga pelaku industri perlu mempertimbangkan skala usaha dan efisiensi bisnisnya.

Ke depan, Mira menilai, dinamika persaingan perbankan akan semakin dipengaruhi oleh kemampuan masing-masing pelaku usaha mempertahankan keberlangsungan bisnis di tengah proses konsolidasi.

“Persaingan akan sangat ditentukan oleh kemampuan bertahan, seiring dengan konsolidasi yang terus berlangsung,” ujarnya.

Di tengah dinamika tersebut, bank asing memiliki peluang untuk memperkuat bisnis melalui integrasi layanan, perluasan basis nasabah, dan optimalisasi jaringan yang sudah dimiliki. Namun, langkah tersebut juga menuntut kemampuan untuk menjaga efisiensi dan daya saing di pasar Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News